6 Rukun Iman Dan 5 Rukun Islam Makna Urutan Penjelasannya

Sebagai salah satu hal yang paling penting dalam kajian agama bagi seorang muslim yaitu mengetahui perihal ihwal kedua rukun yaitu rukun islam dan rukun iman, Dimana yang keduanya ini merupakan salah satu nilai pondasi dasar dalam menunjukan kehambaan seorang insan yang di aplikasikan melalui banyak sekali amalan ibadah sekaligus menguatkan keimanan dan ketaqwaannya melalui segi pengamalan yang terdapat pada kedua rukun tersebut sehinga bisa di jabarkan dalam diri dan kehidupan sehari-hari.


Islam artinya pasrah dengan segala apa yang di perintahkan oleh Agama untuk menuju jalan keselamatan serta meraih keridhoannya, juga di barengi dengan ketetapan keimanan dan ketaqwaan yang bersumber dari dasar pasti rukun islam dan rukun iman, Karena tidak akan tepat nilai keimanan sseorang jikalau di dalam lubuk hatinya tidak tertancapkan sinar keislaman dan keimanan, Untuk itu mengetahui lebih lanjut perihal yang ada dalam kedua rukun tersebut merupakan titik terang untuk menemukan jalan keselamatan hidup itu.


Mengingat secara bahasa dan pengertian kata Rukun itu yaitu sesuatu yang mesti dan harus dilakukan, oleh lantaran itulah sebelum mengamalkan amalan lain dari usulan dan perintahan, maka seyogyanya kita harus memahami terlebih dahulu apa itu yang di maksud dengan rukun kepercayaan dan rukun islam, oleh lantaran itulah peranan penting mengenai dari pada kedua rukun ini dalam memberdayakan kualitas seorang muslim dan mukmin yang taat sangatlah besar terhadap prospek dari hanya sekedar argumentasi dalil saja.


Dimana penerangan dari rangkuman bahwa rukun kepercayaan ada 6 yaitu dan rukun islam ada 5 perkara itu yaitu sebuah panduan aturan yang secara pengertian merupakan hakikat dari bukti kasatmata keimanan dan keislaman seseorang, mirip dalam menjelaskan makna pengertian kedua rukun tersebut baik di pandang berdasarkan bahasa dan istilah maupun dari cara pengamalannya. Sehingga apa yang kau ketahui ihwal kepercayaan serta jelaskan begitu juga dengan pertanyaan ihwal mengapa kita harus beriman kepada nabi dan rasul bisa terjawab dengan dan penjelasannya.


Sebagai salah satu hal yang paling penting dalam kajian agama bagi seorang muslim yaitu m 6 Rukun Iman Dan 5 Rukun Islam Makna Urutan Penjelasannya


Bahkan tidak sedikit orang awam ketika ini yang masih belum bisa memahami secara fundamental kepercayaan kepada allah, kepercayaan kepada malaikat termasuk rukunnya ataupun mengimani malaikat secara berurutan. Padahal itu konkritnya yaitu sebuah kewajiban yang fundamental dan wajib di imaninya. Begitu pula dengan hal-hal yang berafiliasi dengan makalah keislaman yang menjadi perincian dari arkanul islam mirip zakat yang menjadi ketiga, urutan rukun haji serta macam macam rukun islam lainnya yang menjadi ukuran terhadap pemahaman agama islam itu sendiri.


Sehingga semuanya sanggup diketahui dari makna, nama nama termasuk pertanyaan ada berapa jumlah daripada rukun kepercayaan dan rukun islam termasuk artinya itu ? Sebab hal ini sangat berkaitan pribadi dengan salah satu perintahan dari hikmah memahami kedua rukun tersebut, mirip yang tergambarkan dalam sebuah dalil dalam surah Al-Baqarah ayat 177:



لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ


Artinya : “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi Kebajikan itu ialah (kebajikan)orang yang beriman kepada ALLOH, hari selesai , malaikat – malaikat , kitab – kitab , dan nabi – nabi, “(QS Al-Baqarah Ayat 177)


Sebagai salah satu referensi keterangan yang menjelaskan tentnag makna akan rukun kepercayaan dan rukun islam itu merujuk pada sebuah hadits: “Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku ihwal Islam”. Kemudian Rasulullah Saw menjawab: “Islam itu yaitu engkau bersaksi bahwa tiada ilahi yang berhak disembah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad yaitu utusan Allah, Engkau mendirikan shalat, Membayar zakat, Berpuasa pada bulan bulan pahala dan mengerjakan haji ke rumah Allah jikalau engkau bisa mengerjakannya.”


Orang itu berkata, “Engkau benar ”. Kami menjadi heran, lantaran beliau yang bertanya dan beliau pula yang membenarkannya. Orang itu bertanya lagi, “Lalu terangkanlah kepadaku ihwal iman”. Rasulullah Saw menjawab, “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, Para malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Para rasul-Nya, Hari selesai dan Kepada takdir yang baik dan yang buruk.” Sehingga dari kedua klarifikasi yang termuat dari hadits tersebut, para Ulama menawarkan klarifikasi ihwal hakikat daripada sebuah iman.


Ta’rif Iman



الإيمان تصديق بالقلب، وإقرار باللسان، وعمل بالجوارح،


Artinya : “Iman itu ratifikasi / diucapkan dengan lisan, dibenarkan dalam hati, dan direalisasikan / dikerjakan oleh seluruh anggota badan, dalam arti dikerjakan oleh anggota maka itu disebut amalan”.

Imam nawawi dalam shohih muslim menjelaskan :



الايمان فى اللغة هو التصديق فان عنى به ذلك فلا يزيد ولا ينقص لأن التصديق ليس شيئا يتجزأ حتى يتصور كماله مرة ونقصه أخرى والايمان فى لسان الشرع هو التصديق بالقلب والعمل بالأركان


Artinya: “Iman dalam istilah syar’iy yaitu pembenaran dengan hati dan perbuatan dengan anggota tubuh”.


Rukun Iman

1. Iman Kepada Alloh S.W.T

Dengan klarifikasi hati beri’tikad bahwa tiada Tuhan selain Alloh S.W.T termasuk dari mengetahui dan mengimani sifat yang wajib , jaiz dan juga mustahilNYA. Adapun yang termasuk pada sifat yang wajib di Alloh S.W.T Ulama jago tauhid yaitu ‘Asyari dan Imam Almatuhiridi menjelaskan:

1. Ada (wujud) lawnnya tidak ada (’adam)

2. Dahulu (qidam) lawannya gres (huduts)

3. Kekal (baqa’) lawannya berubah-ubah (fana’)

4. Tidak ibarat sesuatu (mukhalafatu lil hawaditsi) lawannya ibarat sesuatu (almumatsalatu lil hawaditsi)

5. Berdiri sendiri (qiyamuhu binafsihi) lawannya berhajat kepada yang lain (al-ihtiyaju lighairihi)

6. Esa (wahdaniyat) lawannya berbilang (&l<>t;em>wujudusy syarik)

7. Kuasa (qudrat) lawannya tdak kuasa (’ajz)

8. Berkehendak (iradah) lawannya terpaksa (karahah)

9. Mengetahui (’ilm) lawannya terbelakang (jahl)

10. Hidup (hayat) lawannya mati (maut)

11. Mendengar (sama’) lawannya tuli (shamam)

12. Melihat (bashar) lawannya buta (’umyu)

13. Berbicara (kalam) lawannya bisu (bukm)

14. Yang Berkuasa (qadiran) lawnanya Yang tidak berkuasa (’ajizan)

15. Yang Berkemauan (muridan) lawannya Yang Terpaksa (mukrahan)

16. Yang berpengatahuan (’aliman) lawannya Yang Bodoh (jahilan)

17. Yang Hidup (hayyan) lawannya Yang Mati (mayyitan)

18. Yang Mendengar (sami’an) lawannya. Yang Tuli (ashamm)

19. Yang Melihat (basyiran) lawannya Yang Buta (a’ma)

20. Yang Berbicara (mutakalliman) lawannya Yang Bisu (abkam)


Sifat Jaiz Bagi Allah SWT yaitu bahwa Allah berbuat apa yang dikehendaki, mirip dalam Al-Qur’an disebutkan :



وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَايَشَاءُ وَيَخْتَارُ


Artinya :“Dan Tuhanmu menyebabkan dan menentukan barang siapa apa yang dikehendaki-Nya. (Al-Qashash: 68)


2. Iman Kepada Para Malaikat Alloh S.W.T

Penjelasannya yaitu hati beri’tiqad Malaikat itu tidak sama dengan insan di dalam sifat-sifat dan pekerjaannya: bukan pria dan bukan perempuan, tidak makan dan tidak pula minum; dan dalam keadaan biasa tidak sanggup dilihat dengan mata kepala, malaikat-malaikat itu sebangsa Ruh saja. Adapun para malaikat yang wajib diketahui itu umlahnya ada sepuluh.


1. Malaikat Jibril yang bertugas membawa wahyu dari hadirat Ilahi, kepada para Nabi dan Rasul

2. Malaikat Nikail yang bertugas membawa rezeki kepada semua makhluq

3. Malaikat Isrofil yang bertugas meniup sangkakala (trompet) di hari kemudian

4. Malaikat Izroil yang bertugas mencabut nyawa dari tubuh makhluq

5. Malaikat Rakib yang bertugas mengawasi dan meneliti pekerjaan manusia

6. Malaikat Atid yang bertugas mengawasi dan meneliti pekerjaan manusia

7. Malaikat Mungkar yang bertugas menanyai tiap-tiap orang dalam kubur

8. Malaikat Nakir yang bertugas menanyai tiap-tiap orang dalam kubur

9. Malaikat Malik atau Zabaniyah yang bertugas menjaga neraka

10. Malaikat Ridwan yang bertugas menjaga surga.


3. Iman Kepada Kitab-Kitab Alloh S.W.T

Penjelasannya yaitu hati meyakini terhadap 4 kitab secara tafsil dengan nama-namanya, yakni :

1. Kitab Taurot yang diturunkan kepada Nabi Musa as

2. Kitab zabur kepada Nabi Dawud as

3. Kitab Alkitab kepada Nabi Isa as

4. Kitab Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw

Adapun untuk kitab selain yang 4 tersebut, yang wajib hanyalah secara ijmali (global) yakni dengan meyakini Bahwa sesungguhnya Allah telah menurunkan kitab-kitabnya dari langit secara global yang jumlahnya kitab Allah itu yaitu 104 kitab.


4. Iman Kepada Para Rasul Alloh S.W.T

Penjelasannya hati meyakini dan beri’tiqad bahwa adanya rasul termasuk dari jumlahannya terutama yang sudah tersirat dalam kitab suci Alquran di antaranya Adam, Idris, Nuh, Hud, Shaleh, Ibrahim, Luth, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Syu’aid, Musa, Harun, Dzulkifli, Dawud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’, Yunus, Zakaria, Yahya, Isa, Muhammad.


Selanjutnya di antara 25 orang itu ada 5 orang Rasul yang memiliki kelebihan yang istimewa. Mereka itu dinamakan Ulul-Azmi (اولوالعزم) artinya para Nabi dan Rasul yang memiliki ketabahan luar biasa. Mereka itu yaitu Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Nabi Muhammad SAW. Begitu juga sifat yang wajib, jaiz dan juga tidak mungkin di rasul.


Sifat yang wajib di para Rasul:

a. Benar/Jujur atau صِدْقٌ tidak mungkin Suka bohong atau كِذْبٌ

b. Dapat dipercaya atau اَمَانَةٌ tidak mungkin khianat (خِيَانَةٌ)

c. Menyampaikan perintah dan larangan atau تَبْلِغٌ tidak mungkin menyembunyikan pedoman atau كِتْمَانٌ

d. Cerdas atau فَطَانَةٌ tidak mungkin pelupa atau غَفْلَةٌ


Sifat yang Jaiz Di Rasul satu yaitu al-a’radlul basyariyah اَلأَعْرَاضُ البَشَرِيَّةُ (sifat kemanusiaan) mirip makan, berkeluarga, penat, mati, merasa lezat dan tidak enak, sehat dan juga menderita sakit yang tidak mengurangi kedudukannya sebagai Rasul.


Berikut Nama Nama Nabi dan Rasul yang wajib diketahui dan di imani

1. Nabi Adam Alaihi Salam

2. Nabi Idris Alaihi Salam

3. Nabi Nuh Alaihi Salam

4. Nabi Hud Alaihi Salam

5. Nabi Soleh Alaihi Salam

6. Nabi Ibrahim Alaihi Salam

7. Nabi Luth Alaihi Salam

8. Nabi Ismail Alaihi Salam

9. Nabi Ishak Alaihi Salam

10. Nabi Yakub Alaihi Salam

11. Nabi Yusuf Alaihi Salam

12. Nabi Ayub Alaihi Salam

13. Nabi Sueb Alaihi Salam

14. Nabi Musa Alaihi Salam

15. Nabi Harun Alaihi Salam

16. Nabi Zulkifli Alaihi Salam

17. Nabi Daud Alaihi Salam

18. Nabi Sulaiman Alaihi Salam

19. Nabi Ilyas Alaihi Salam

20. Nabi Ilyasa Alaihi Salam

21. Nabi Yunus Alaihi Salam

22. Nabi Zakaria Alaihi Salam

23. Nabi Yahya Alaihi Salam

24. Nabi Isa Alaihi Salam

25. Nabi Muhammad Sholallohu Alaihi Wasallam.


Perbedaan Rasul dan Nabi

Nabi yaitu seseorang dengan jenis kelamin pria yang memperoleh wahyu dari Allah SWT namun tidak wajib menyebarluaskan wahyu tersebut kepada orang lain.


Rasul merupakan seseorang yang mendapat wahyu dari Allah SWT dan memiliki kewajiban untuk menyebaluaskan wahyu tersebut kepada umatnya, sebagai petunjuk dan jalan hidup.


5. Iman Pada Hari Akhir (Qiyamat)

Penjelasannya hati wajib percaya akan datangnya Hari kemudian atau Akherat, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an.



ذلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَاْلحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِ اْ لمَوْتى وَاَنَّهُ عَلىَ كُلِ شَىْءٍ قَدِيْرٌ وَاَنَّ السَّاعَةَ ءَانِيَةٌ لاَرَيْبَ فِيْهَا وَأَنَّ اللهَ يَبْعَثُ مَنْ فِى اْلقُبُوْرِ


Artinya : “Yang sedemikian itu, supaya engkau mengerti bahwa Tuhan Allah itu Tuhan yang benar dan Tuhan itu menghidupkan segala yang telah mati. Lagi Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya Qiyamat itu pasti datang, tiada ragu lagi. Tuhan Allah benar-benar akan membangkitkan orang-orang yang ada dalam kubur.” (Al-Hajj: 6 –7).



وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَصَعِقَ مَنْ فِى السَّموت وَمَنْ فِى اْلأَرْضِ اِلاَّ مَنْ شَاءَ اللهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيْهِ اُخْرى فَاءِذَاهُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُوْن


Artinya : “Sungguh pada hari Qiyamat akan ditiup sangkakala (trompet) lantas matilah sekalian apa yang ada di langit dan yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian akan ditiup padanya sekali lagi, kemudian mereka sekalian akan berdiri memandang (menunggu keputusan).” (Az-Zumar: 68)


Diterangkan bahwa pada kiamat akan tiba suatu hari dimana, semua makhluq yang ada akan menjadi rusak dan binasa, itulah hari Qiyamat namanya. Sesudah itu akan dibangkitkan semua insan dari kuburnya debgan instruksi sangkakala (trompet) yang ditiup oleh malaikat.


Kemudian diperiksa semua amal masing-masing untuk dihitung dan ditimbang (dihisab), dan kesudahannya diberi tanggapan baik bagi yang amal kebaikannya di dunia lebih banyak dari amal jahatnya, dan dibalas siksa bagi yang amal jahatnya di dunia lebih banyak dari pada amal kebaikannya. Balasan itu berupa nirwana dan neraka.


6. Iman Kepada Qodho dan Qodar

Penjelasannya hati wajib mempercayai bahwa segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi, semuanya itu, berdasarkan apa yang telah ditentukan dan ditetapkan oleh Tuhan Allah, semenjak sebelumnya (zaman azali). yang dimaksud dengan Qadar atau Takdir yaitu rencana sebelumnya itu atau hinggaan. Adapun Qadla artinya keputusan perbuatan (pelaksanaan) itu yaitu terlaksananya berupa kenyataan.


Adapun ayat-ayat Alquran yang menerangkan ihwal qodar dan qodho itu sebagaimana yang termuat dari beberapa ayat berikut ini:



مَاأَصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ فِى اْلأَرْضِ وَلاَ فِى اَنْفُسِكُمْ اِلاَّ فِى كِتَبٍ مِنْ قَبْلِ اَنْ نَبْرَأَهَا


Artinya : “Tiadalah sesuatu peristiwa yang menimpa bumi dan pada dirimu sekalian, melainkan sudah tersurat dalam kitab (Lauh Mahfudh) dahulu sebelum kejadiannya.” (Al-Hadid: 22)



وَكُلُّ شَىْءٍ عِنْدَهُ بِمَقْدَارٍ


Artinya : “Dan segala sesuatu, bagi Tuhan telah ada hinggaannya (jangkanya).” (Ar-Rad; 8).



قُلْ لَنْ يُصِيْبَنَا اِلاَّ مَاكَتَبَ اللهُ لَنَا


Artinya : “Katakanlah (Muhammada): Tiada sekali-kali akan ada peristiwa mengenai kami, melainkan hanya apa yang ditentukan oleh Allah bagi kami.” (Al-Baraah; 51)



وَالَّذِى قَدَّرَ فَهَدَى


Artinya : “Dan (Tuhanmu) yang telah menentukan, kemudian menunjukkan.” (Al-A’la; 3)


Rukun Islam

Pengertian ihwal islam yang berasal dari kata ‘salm’ (السَّلْم) yang berarti tenang atau kedamaian. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran:



وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ


Artinya : “Dan jikalau mereka condong kepada perdamaian (lis salm), maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 8:61).


Dengan klarifikasi yang termaktub pada sebuah hadits:



عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الَّرحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهِ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُوْلُ : بُنِيَ الإسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ, وَحَجِّ الْبَيْتِ, وَصَوْمِ رَمَضَانَ. (رواه البخاري و مسلم)


Artinya : “Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu berkata : Aku pernah mendengar Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun atas lima pekara. (1) Persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Rasul Allah, (2) mendirikan shalat, (3) mengeluarkan zakat, (4) melakukan ibadah haji, dan (5) berpuasa Ramadhan”. (HR Bukhari dan Muslim).


1. Syahadat



أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَََّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ


Artinya : “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu adalh utusan Alloh.”

Makna Laa Ilaaha Illallaah.

Makna dari kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (laa ilaaha illallaah) yaitu لاَ مَعْبُوْدَ بِِِِِحَقٍّ إِلاَّ اللهُ (laa ma’buda bi haqqin ilallaah), tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak di ibadahi dengan benar kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua sesembahan yang disembah oleh insan berupa malaikat, jin, manusia, matahari, bulan, bintang, kubur, pohon, batu, kayu dan lainnya, semuanya merupakan sesembahan yang batil, tidak bisa menawarkan manfaat dan tidak sanggup menolak bahaya.


Dalil yang menerangkan ihwal syahadat itu adalah:



شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ


Artinya :“Allah menyatakan bahu-membahu tidak ada sesembahan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada sesembahan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS al Imran: 18)


2. Mendirikan Sholat

Penjelasannya yaitu sebagai seorang muslim tentunya diwajibkan untuk melakukan perintahan yang wajib mirip mendirikan sholat lima waktu yang termasuk pada rukun islam bahkan dalam hadits di jelaskan bahwa sholat itu yaitu tiangnya agama, oleh lantaran itulah mengapa sholat termasuk pada rukun islam. Adapun salah satu dali yang menerangkan wajibnya mendirikan sholat sebagaimana yang ada pada:



وَاَقِيْمِ الصَّلَوةَ اِنَّ الصَّلَوةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرَ


Artinya: “Kerjakanlah sholat sesungguhnya sholat itu bisa mencegah perbuatan keji dan munkar.” QS. Al-Ankabut ayat 45



رأس الأمرالإسلام، وعموده الصلاة، وذروة سنامه الجهاد في سبيل الله


Artinya : “Pokok urusan yaitu Islam, tiang-tiangnya yaitu shalat, dan puncaknya yaitu jihad”.(HR Tirmidzi)


3. Membayar Zakat

Wajib bagi setiap individu umat ilsam untuk membayar zakat terutama zakat fitrah dengan ketentuan yang sudah dijelaskan oleh para ulama, baik itu zakat fitrah maupun zakat mal. Hal ini bisa dilihat dari keterangan dalil yang menerangkan wajib membayar zakat diantaranya :


Firman ‎Allah ta’ala:‎



وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ وَارْكَعُواْ مَعَ الرَّاكِعِينَ


Artinya : “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku‘. (QS. Al ‎Baqarah: 43)‎



خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ


Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kau membersihkan ‎dan mensucikan mereka dan berdo’alah untuk mereka. (QS. At Taubah: 103)‎


Alhadits : “Sehingga tidak mengherankan Abu Bakar as Shiddiq berkata, “Aku benar-benar akan memerangi ‎orang-orang yang memisahkan antara shalat dan zakat” (HR Bukhari Muslim).‎


4. Puasa di Bulan Ramadhan

Diwajibkan bagi setiap individu muslim untuk melakukan ibadah puasa di bulan ramadhan, sebagaimana yang telah diterangkan dalan sebuah dalil:



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


Artinya : ““Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian semoga kalian bertakwa”. (Q.S Albaqoroh ayat 183)



خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِى الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ . فَقَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهُنَّ قَالَ : لاَ. إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ وَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ . فَقَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهُ فَقَالَ : لاَ. إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ . وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةَ فَقَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهَا قَالَ : لاَ. إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ . قَالَ فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ وَاللَّهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلاَ أَنْقُصُ مِنْهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ .


Artinya : “Shalat lima waktu (diwajibkan) dalam sehari dan semalam.” Maka, ia berkata, “Apakah ada kewajiban lain terhadapku?” Beliau menjawab, “Tidak ada, kecuali hanya ibadah sunnah. Juga puasa Ramadhan.” Maka, ia berkata, “Apakah ada kewajiban lain terhadapku?” Beliau menjawab, “Tidak ada, kecuali hanya ibadah sunnah,” dan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menyebutkan (kewajiban) zakat terhadapnya. Maka, ia berkata, ‘Apakah ada kewajiban lain terhadapku?’ Beliau menjawab, ‘Tidak ada, kecuali hanya ibadah sunnah.” Kemudian, orang tersebut pergi seraya berkata, “Demi Allah, saya tidak akan menambah di atas hal ini dan tidak akan menguranginya.’ Maka, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ia telah beruntung apabila jujur.’.”


5. Pergi Ibadah Haji

Bagi muslim yang bisa untuk melakukan ibadah hajji baik bisa secara ibadah, biaya maupun bisa dalam pengertian bisa melaksanakannya sesuai dengan nishob dan persyaratannya, maka di wajibkan kepadanya untuk melakukan ibadah haji itu. Banyak dalil alquran yang menerangkan akan kewajiban haji tersebut diantaranya:



وَأَتِمُّواْ الْحَجَّوَ الْعُمْرَ ةَ لِلّهِفَإِ نْأُ حْصِرْ تُمْفَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَا لْهَدْ يِوَلاَ تَحْلِقُواْ رُؤُ و سَكُمْحَتَّى يَبْلُغَالْهَدْ يُمَحِلَّهُفَمَن كَا نَمِنكُممَّرِ يضاًأَوْ بِهِأَذًى مِّنرَّ أْسِهِفَفِدْيَةٌ مِّن صِيَامٍأَوْصَدَقَةٍأَوْ نُسُكٍفَإِذَا أَمِنتُمْفَمَنتَمَتَّعَبِا لْعُمْرَةِ إِلَىالْحَجِّفَمَا اسْتَيْسَرَمِنَ الْهَدْيِفَمَن لَّمْيَجِدْفَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍفِيا لْحَجِّوَسَبْعَةٍ إِذَ ارَ جَعْتُمْتِلْكَعَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ذَلِكَلِمَن لَّمْيَكُنْأَ هْلُهُ حَا ضِرِ يا لْمَسْجِدِ الْحَرَامِوَاتَّقُواْ اللّهَوَاعْلَمُواْ أَنَّاللّهَ شَدِ يدُ الْعِقَا بِ


Artinya : “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah lantaran Allah. Jika kau terkepung (terhalang oleh musuh atau lantaran sakit), maka (sembelihlah) kurban yang gampang didapat, dan jangan kau mencukur kepalamu sebelum kurban hingga ke kawasan penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu beliau bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa, atau bersedekah, atau berkurban. Apabila kau telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan Haji), (wajiblah beliau menyembelih) kurban yang gampang didapat. Tetapi jikalau beliau tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kau telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekkah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketauhilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Baqarah:196)



الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّـقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَـابِ


Artinya: “(Musim) haji yaitu beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang memutuskan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka dihentikan rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kau kerjakan berupa kebaikan, pasti Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal yaitu takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al Baqarah:197).


Makna dan tujuan dari pada klarifikasi mengenai rukun islam dan rukun itu merupakan pecahan penting untuk mengaplikasikan segala apa yang menjadi bentuk kaidah dalam beribadah semoga senantiasa berada dalam jalan keselmatana sebagai tujuan kahir dalam meraih keriddhoan Allah S.W.T.


Belum ada Komentar untuk "6 Rukun Iman Dan 5 Rukun Islam Makna Urutan Penjelasannya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel