Keutamaan Bacaan Surat Al-Kahfi Latin Manfaat Dan Artinya
Satu instruksi penting ihwal pemaknaan dari sebuah surat dan ayat yang ada dalam Alquran sebagai nilai pembelajaran untuk umat-umat selanjutnya. Seperti Surat Al kahfi dan surat-surat lainnya yang mempunyai diam-diam dan maksud tertentu yang hanya Allah S.W.T saja yang mengetahui di balik rahasianya itu, dan secara klasifikasi juga penafisran melalui syariat ilmu para Ulama itu di jelaskan supaya bisa di mengerti dan di fahami oleh semua orang, terlebih dengan surat al kahfi itu sendiri.
Didalam alquran terdapat diam-diam yang terkandung dalam setiap abjad dan kalimah juga surat yang ada pada kitab suci tersebut, salah satunya yang ada dari keutamaan dikala membaca surat al kahfi yang memang banyak sekali faidah dan manfaat dari keberkahannya tersebut. Karena Alquran selain sebagai kitab suci, sumber aturan dan juga pedoman hidup bagi seorang muslim, diam-diam yang terdapat di dalamnya juga bisa dimaknai sebagai nilai ibadah yang tiada terhingga. Mulai dari membaca, mendengar apalagi hingga bisa mengartikan juga mengamalkannya.
Bahkan selain itu juga al-qur’an merupakan sebuah kitab suci yang bisa dijadikan sebagai obat dalam segala hal, yang tentunya pemaknaannya tersebut sesuai dengan kaidah dan berjalan dalam keterangan yang membahas problem ibarat itu. Terlebih lagi dalam surat-surat pada kitab suci tersebut terdapat hal ikhwal yang menjadikannya di turunkan sesuai dengan asbabbu nuzul ataupun proses dan sebab-sebab di turunkannya surat sesuai dengan situasi dan kondisi umat pada waktu itu.
Berangkat dari semua itu maka layak sekali kita sebagai umat islam untuk lebih memaknai dan memahami secara benar setiap kalimah yang ada pada surat-surat dalam Alquran. Terutama dari surat dan ayat yang memang sangat di anjurkan untuk dibaca di waktu dan hari-hari tertentu, meskipun hakikat daripada makna dan arti setiap huruf, kalimah juga surat dalam alquran tersebut yakni sebuah kandungan ayat yang begitu besar dan penting sekali utnu di bacakan bagi setiap umat muslimin.
Untuk itulah faidah keutamaan setiap ayat alquran tersebut bisa di terjemahkan dalam pelaksanaan dan pengamalan jiwa sebagai wujud dari sejatiya seorang mukmin yang sejati, sebagaimana yang telah di terangkan dalam aneka macam kaidah dan ajuan baik itu dari Assunah yang di jabarkan lebih luas oleh qaul-qaul para ulama, Sehingga dengan seringnya dibacakan setiap surat dalam alquran tersebut terlebih khusus dari surat alkahfi inipemakanaan secara kejiwaan bisa di raih dan di maksimalkan.
Keutamaan Surat Al kahfi
Dari Abu Sa’id al-Khudri radliyallahu ‘anhu, dari Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ
Artinya : “Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya beliau dan Baitul ‘atiq.” (Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 736)
Dalam riwayat lain masih dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,
مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ أَضَآءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ
Artinya : “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum’at.” (HR. Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249. Ibnul Hajar mengomentari hadits ini dalam Takhrij al-Adzkar, “Hadits hasan.” Beliau menyatakan bahwa hadits ini yakni hadits paling besar lengan berkuasa ihwal surat Al-Kahfi. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jami’, no. 6470)
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, berkata: Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ سَطَعَ لَهُ نُوْرٌ مِنْ تَحْتِ قَدَمِهِ إِلَى عَنَانِ السَّمَاءَ يُضِيْءُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَغُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ
Artinya :“Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya hingga ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.”
Bacaan Surat Al Kahfi Arab latin dan Artinya
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Latin : Bismillahirrahmaanirrahiim(i)
“Artinya : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ عَلَىٰ عَبۡدِهِ ٱلۡكِتَٰبَ وَلَمۡ يَجۡعَل لَّهُۥ عِوَجَاۜ
Latin : Al hamdu lillahil-ladzii anzala ‘alaa ‘abdihil kitaaba wa lam yaj’al lahuu ‘iwajaa
1. Artinya : “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan[871] di dalamnya;”
قَيِّمٗا لِّيُنذِرَ بَأۡسٗا شَدِيدٗا مِّن لَّدُنۡهُ وَيُبَشِّرَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمۡ أَجۡرًا حَسَنٗا
Latin : Qayyiman liyundzira ba’san syadiidan min ladunhu wa yubasy-syiral mu’miniinal-ladziina ya’maluunash-shaalihaati anna lahum ajran hasanaa(n)
2. Artinya : “sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi info bangga kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik,”
مَّٰكِثِينَ فِيهِ أَبَدٗا
Latin : Maakitsiina fiihi abadaa(n)
3. Artinya : “mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.”
وَيُنذِرَ ٱلَّذِينَ قَالُواْ ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ وَلَدٗا
Latin : Wa yundziral-ladziina qaaluut-takhadzallahu waladaa(n)
4. Artinya : Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: “Allah mengambil seorang anak.”
مَّا لَهُم بِهِۦ مِنۡ عِلۡمٍ وَلَا لِأٓبَآئِهِمۡۚ كَبُرَتۡ كَلِمَةٗ تَخۡرُجُ مِنۡ أَفۡوَٰهِهِمۡۚ إِن يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبٗا
Latin : Maa lahum bihii min ‘ilmin walaa li-aabaa-ihim kaburat kalimatan takhruju min afwaahihim in yaquuluuna illaa kadzibaa(n)
5. Artinya : “Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan ihwal hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari ekspresi mereka; mereka tidak menyampaikan (sesuatu) kecuali dusta.”
فَلَعَلَّكَ بَٰخِعٌ نَّفۡسَكَ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمۡ إِن لَّمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ أَسَفًا
Latin : Fala’allaka baakhi’un nafsaka ‘alaa aatsaarihim in lam yu`minuu bihaadzaal hadiitsi asafaa(n)
6. Artinya : “Maka (apakah) barangkali kau akan membunuh dirimu lantaran bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran).”
إِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَى ٱلۡأَرۡضِ زِينَةٗ لَّهَا لِنَبۡلُوَهُمۡ أَيُّهُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗا
Latin : Innaa ja’alnaa maa ‘alal ardhi ziinatan lahaa linabluwahum ayyuhum ahsanu ‘amalaa(n)
7. Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menimbulkan apa yang di bumi sebagai pelengkap baginya, biar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.”
وَإِنَّا لَجَٰعِلُونَ مَا عَلَيۡهَا صَعِيدٗا جُرُزًا
Latin : Wa innaa lajaa’iluuna maa ‘alaihaa sha’iidan juruzaa(n)
8. Artinya : “Dan bekerjsama Kami benar-benar akan menimbulkan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.”
أَمۡ حَسِبۡتَ أَنَّ أَصۡحَٰبَ ٱلۡكَهۡفِ وَٱلرَّقِيمِ كَانُواْ مِنۡ ءَايَٰتِنَا عَجَبًا
Latin : Am hasibta anna ashhaabal kahfi warraqiimi kaanuu min aayaatinaa ‘ajabaa(n)
9. Artinya : “Atau kau mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim [872] itu, mereka termasuk gejala kekuasaan Kami yang mengherankan?”
إِذۡ أَوَى ٱلۡفِتۡيَةُ إِلَى ٱلۡكَهۡفِ فَقَالُواْ رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةٗ وَهَيِّئۡ لَنَا مِنۡ أَمۡرِنَا رَشَدٗا
Latin : Idz awal fityatu ilal kahfi faqaaluuu rabbanaa aatinaa min ladunka rahmatan wa hayyi`lanaa min amrinaa rasyadaa(n)
10. Artinya : (Ingatlah) tatkala para cowok itu mencari kawasan berlindung ke dalam gua, kemudian mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).”
فَضَرَبۡنَا عَلَىٰٓ ءَاذَانِهِمۡ فِي ٱلۡكَهۡفِ سِنِينَ عَدَدٗا
Latin : Fadharabnaa ‘alaa aadzaanihim fiil kahfi siniina ‘adadaa(n)
11. Artinya : “Maka Kami tutup pendengaran mereka beberapa tahun dalam gua itu [873],”
ثُمَّ بَعَثۡنَٰهُمۡ لِنَعۡلَمَ أَيُّ ٱلۡحِزۡبَيۡنِ أَحۡصَىٰ لِمَا لَبِثُوٓاْ أَمَدٗا
Latin : Tsumma ba’atsnaahum lina’lama ayyul hizbaini ahshaa limaa labitsuu amadaa(n)
12. Artinya : “Kemudian Kami bangunkan mereka, biar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu [874] yang lebih tepat dalam menghitung berapa usang mereka tinggal (dalam gua itu).”
نَّحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ نَبَأَهُم بِٱلۡحَقِّۚ إِنَّهُمۡ فِتۡيَةٌ ءَامَنُواْ بِرَبِّهِمۡ وَزِدۡنَٰهُمۡ هُدٗى
Latin : Nahnu naqush-shu ‘alaika naba-ahum bil haqqi innahum fityatun aamanuu birabbihim wa zidnaahum huda(n)
13. Artinya : “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) dongeng ini dengan benar. Sesungguhnya mereka yakni pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.”
وَرَبَطۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ إِذۡ قَامُواْ فَقَالُواْ رَبُّنَا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ لَن نَّدۡعُوَاْ مِن دُونِهِۦٓ إِلَٰهٗاۖ لَّقَدۡ قُلۡنَآ إِذٗا شَطَطًا
Latin : Wa rabathnaa ‘alaa quluubihim idz qaamuu faqaaluuu rabbunaa rabbus-samaawaati wal ardhi lan nad’uwa min duunihi ilahan laqad qulnaa idzan syathathaa(n)
14. Artinya : Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri [875], kemudian mereka pun berkata, “Tuhan kami yakni Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, bekerjsama kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.”
هَٰٓؤُلَآءِ قَوۡمُنَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةٗۖ لَّوۡلَا يَأۡتُونَ عَلَيۡهِم بِسُلۡطَٰنِۢ بَيِّنٖۖ فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا
Latin : Haa-ulaa-i qaumunaa-attakhadzuu min duunihii aalihatan laulaa ya’tuuna ‘alaihim bisulthaanin bayyinin faman azhlamu mimmaniiftaraa ‘alallahi kadzibaa(n)
15. Artinya : “Kaum kami ini telah menimbulkan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?”
وَإِذِ ٱعۡتَزَلۡتُمُوهُمۡ وَمَا يَعۡبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ فَأۡوُۥٓاْ إِلَى ٱلۡكَهۡفِ يَنشُرۡ لَكُمۡ رَبُّكُم مِّن رَّحۡمَتِهِۦ وَيُهَيِّئۡ لَكُم مِّنۡ أَمۡرِكُم مِّرۡفَقٗا
Latin : Wa idzii’tazaltumuuhum wa maa ya’buduuna illaallaha fa`wuu ilal kahfi yansyur lakum rabbukum min rahmatihii wa yuhayyi` lakum min amrikum mirfaqaa(n)
16. Artinya : “Dan apabila kau meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah kawasan berlindung ke dalam gua itu, pasti Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang mempunyai kegunaan bagimu dalam urusan kau [876].”
وَتَرَى ٱلشَّمۡسَ إِذَا طَلَعَت تَّزَٰوَرُ عَن كَهۡفِهِمۡ ذَاتَ ٱلۡيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَت تَّقۡرِضُهُمۡ ذَاتَ ٱلشِّمَالِ وَهُمۡ فِي فَجۡوَةٖ مِّنۡهُۚ ذَٰلِكَ مِنۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِۗ مَن يَهۡدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِۖ وَمَن يُضۡلِلۡ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ وَلِيّٗا مُّرۡشِدٗا
Latin : Wa tarasy-syamsa idzaa thala’at tazaawaru ‘an kahfihim dzaatal yamiini wa idzaa gharabat taqridhuhum dzaatasy-syimaali wa hum fii fajwatin minhu, dzaalika min aayaatillahi man yahdillahu fahuwal muhtadi wa man yudhlil falan tajida lahuu waliyyan mursyidaa(n)
17. Artinya : “Dan kau akan melihat matahari dikala terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam kawasan yang luas dalam gua itu. Itu yakni sebagian dari gejala (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kau tidak akan mendapat seorang pemimpinpun yang sanggup memberi petunjuk kepadanya.”
وَتَحۡسَبُهُمۡ أَيۡقَاظٗا وَهُمۡ رُقُودٞۚ وَنُقَلِّبُهُمۡ ذَاتَ ٱلۡيَمِينِ وَذَاتَ ٱلشِّمَالِۖ وَكَلۡبُهُم بَٰسِطٌ ذِرَاعَيۡهِ بِٱلۡوَصِيدِۚ لَوِ ٱطَّلَعۡتَ عَلَيۡهِمۡ لَوَلَّيۡتَ مِنۡهُمۡ فِرَارٗا وَلَمُلِئۡتَ مِنۡهُمۡ رُعۡبٗا
Latin : Wa tahsabuhum aiqaazhan wa hum ruquudun wa nuqallibuhum dzaatal yamiini wa dzaatasy-syimaali wa kalbuhum baasithun dziraa’aihi bil washiidi, lawiith-thala’ta ‘alaihim lawallaita minhum firaaran wa lamuli`ta minhum ru’baa(n)
18. Artinya : “Dan kau mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan kalau kau menyaksikan mereka tentulah kau akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kau akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.”
وَكَذَٰلِكَ بَعَثۡنَٰهُمۡ لِيَتَسَآءَلُواْ بَيۡنَهُمۡۚ قَالَ قَآئِلٌ مِّنۡهُمۡ كَمۡ لَبِثۡتُمۡۖ قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖۚ قَالُواْ رَبُّكُمۡ أَعۡلَمُ بِمَا لَبِثۡتُمۡ فَٱبۡعَثُوٓاْ أَحَدَكُم بِوَرِقِكُمۡ هَٰذِهِۦٓ إِلَى ٱلۡمَدِينَةِ فَلۡيَنظُرۡ أَيُّهَآ أَزۡكَىٰ طَعَامٗا فَلۡيَأۡتِكُم بِرِزۡقٍ مِّنۡهُ وَلۡيَتَلَطَّفۡ وَلَا يُشۡعِرَنَّ بِكُمۡ أَحَدًا
Latin : Wa kadzaalika ba’atsnaahum liyatasaa-aluu bainahum, qaala qaa-ilun minhum kam labitstum qaaluuu labitsnaa yauman au ba’dha yaumin qaaluuu rabbukum a’lamu bimaa labitstum faab’atsuu ahadakum biwariqikum haadzihii ilal madiinati falyanzhur ayyuhaa azkaa tha’aaman falya`tikum birizqin minhu walyatalath-thaf wa laa yusy’iranna bikum ahadaa(n)
19. Artinya : “Dan demikianlah Kami bangunkan mereka biar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kau berada (disini?).” Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari.” Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kau lebih mengetahui berapa lamanya kau berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kau untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah beliau lihat manakah masakan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa masakan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.”
إِنَّهُمۡ إِن يَظۡهَرُواْ عَلَيۡكُمۡ يَرۡجُمُوكُمۡ أَوۡ يُعِيدُوكُمۡ فِي مِلَّتِهِمۡ وَلَن تُفۡلِحُوٓاْ إِذًا أَبَدٗا
Latin : Innahum in yazhharuu ‘alaikum yarjumuukum au yu’iiduukum fii millatihim wa lan tuflihuu idzan abadaa(n)
20. Artinya : “Sesungguhnya kalau mereka sanggup mengetahui tempatmu, pasti mereka akan melempar kau dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan kalau demikian pasti kau tidak akan beruntung selama lamanya.”
وَكَذَٰلِكَ أَعۡثَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ لِيَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ وَأَنَّ ٱلسَّاعَةَ لَا رَيۡبَ فِيهَآ إِذۡ يَتَنَٰزَعُونَ بَيۡنَهُمۡ أَمۡرَهُمۡۖ فَقَالُواْ ٱبۡنُواْ عَلَيۡهِم بُنۡيَٰنٗاۖ رَّبُّهُمۡ أَعۡلَمُ بِهِمۡۚ قَالَ ٱلَّذِينَ غَلَبُواْ عَلَىٰٓ أَمۡرِهِمۡ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيۡهِم مَّسۡجِدٗا
Latin : Wa kadzaalika a’tsarnaa ‘alaihim liya’lamuu anna wa’dallahi haqqun wa annassaa’ata laa raiba fiihaa idz yatanaaza’uuna bainahum amrahum faqaaluuuubnuu ‘alaihim bunyaanan rabbuhum a’lamu bihim qaalal-ladziina ghalabuu ‘alaa amrihim lanattakhidzanna ‘alaihim masjidaa(n)
21. Artinya : Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, biar insan itu mengetahui, bahwa akad Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari selesai zaman tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih ihwal urusan mereka [877], orang-orang itu berkata: “Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui ihwal mereka.” Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya.”
سَيَقُولُونَ ثَلَٰثَةٌ رَّابِعُهُمۡ كَلۡبُهُمۡ وَيَقُولُونَ خَمۡسَةٌ سَادِسُهُمۡ كَلۡبُهُمۡ رَجۡمَۢا بِٱلۡغَيۡبِۖ وَيَقُولُونَ سَبۡعَةٌ وَثَامِنُهُمۡ كَلۡبُهُمۡۚ قُل رَّبِّيٓ أَعۡلَمُ بِعِدَّتِهِم مَّا يَعۡلَمُهُمۡ إِلَّا قَلِيلٞۗ فَلَا تُمَارِ فِيهِمۡ إِلَّا مِرَآءٗ ظَٰهِرٗا وَلَا تَسۡتَفۡتِ فِيهِم مِّنۡهُمۡ أَحَدٗا
Latin : Sayaquuluuna tsalaatsatun raabi’uhum kalbuhum wa yaquuluuna khamsatun saadisuhum kalbuhum rajman bil ghaibi wa yaquuluuna sab’atun wa tsaaminuhum kalbuhum, qul rabbii a’lamu bi’iddatihim maa ya’lamuhum illaa qaliilun falaa tumaari fiihim illaa miraa-an zhaahiran wa laa tastafti fiihim minhum ahadaa(n)
22. Artinya : “Nanti (ada orang yang akan) menyampaikan [878] (jumlah mereka) yakni tiga orang yang keempat yakni anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) yakni lima orang yang keenam yakni anjing nya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan yakni anjingnya.” Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit.” Karena itu janganlah kau (Muhammad) bertengkar ihwal hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kau menanyakan ihwal mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.”
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَاْيۡءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا
Latin : Wa laa taquulanna lisyai-in innii faa’ilun dzaalika ghadaa(n)
23. Artinya : Dan jangan sekali-kali kau menyampaikan ihwal sesuatu: “Sesungguhnya saya akan mengerjakan ini besok pagi,”
إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلۡ عَسَىٰٓ أَن يَهۡدِيَنِ رَبِّي لِأَقۡرَبَ مِنۡ هَٰذَا رَشَدٗا
Latin : Illaa an yasyaa-allahu waadzkur rabbaka idzaa nasiita wa qul ‘asaa an yahdiyani rabbii aqraba min haadzaa rasyadaa(n)
24. Artinya : kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah” [879]. Dan ingatlah kepada Tuhanmu kalau kau lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih bersahabat kebenarannya dari pada ini.”
وَلَبِثُواْ فِي كَهۡفِهِمۡ ثَلَٰثَ مِاْئَةٍ سِنِينَ وَٱزۡدَادُواْ تِسۡعٗا
Latin : Wa labitsuu fii kahfihim tsalaatsa mii-atin siniina waazdaaduu tis’a(n)
25. Artinya : “Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).”
قُلِ ٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا لَبِثُواْۖ لَهُۥ غَيۡبُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ أَبۡصِرۡ بِهِۦ وَأَسۡمِعۡۚ مَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَلِيٍّ وَلَا يُشۡرِكُ فِي حُكۡمِهِۦٓ أَحَدٗا
Latin : Qulillahu a’lamu bimaa labitsuu lahuu ghaibus-samaawaati wal ardhi abshir bihii wa-asmi’ maa lahum min duunihii min waliyyin wa laa yusyriku fii hukmihii ahadaa(n)
26. Artinya : Katakanlah: “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam memutuskan keputusan.”
وَٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِن كِتَابِ رَبِّكَۖ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦ وَلَن تَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلۡتَحَدٗا
Latin : Waatlu maa uuhiya ilaika min kitaabi rabbika laa mubaddila likalimaatihi wal an tajida min duunihii multahadaa(n)
27. “Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al Quran). Tidak ada (seorangpun) yang sanggup merobah kalimat-kalimat-Nya. Dan kau tidak akan sanggup menemukan kawasan berlindung selain dari padaNya.”
وَٱصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥۖ وَلَا تَعۡدُ عَيۡنَاكَ عَنۡهُمۡ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَا تُطِعۡ مَنۡ أَغۡفَلۡنَا قَلۡبَهُۥ عَن ذِكۡرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمۡرُهُۥ فُرُطٗا
Latin : Waashbir nafsaka ma’al-ladziina yad’uuna rabbahum bil ghadaati wal ‘asyiyyi yuriiduuna wajhahu, wa laa ta’du ‘ainaaka ‘anhum turiidu ziinatal hayaatiddunyaa wa laa tuthi’ man aghfalnaa qalbahuu ‘an dzikrinaa waattaba’a hawaahu wa kaana amruhu furuthaa(n)
28. Artinya : “Dan bersabarlah kau tolong-menolong dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan pelengkap dunia ini; dan janganlah kau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan yakni keadaannya itu melewati batas.”
وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٍ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا
Latin : Wa qulil haqqu min rabbikum faman syaa-a falyu`min wa man syaa-a falyakfur innaa a’tadnaa li-zhzhaalimiina naaran ahaatha bihim suraadiquhaa wa in yastaghiitsuu yughaatsuu bimaa-in kal muhli yasywiil wujuuha bi`sasy-syaraabu wa saa-at murtafaqaa(n)
29. Artinya : “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan kalau mereka meminta minum, pasti mereka akan diberi minum dengan air ibarat besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan kawasan istirahat yang paling jelek.”
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجۡرَ مَنۡ أَحۡسَنَ عَمَلًا
Latin : Innal-ladziina aamanuu wa ‘amiluush-shaalihaati innaa laa nudhii’u ajra man ahsana ‘amalaa(n)
30. Artinya : “Sesunggunya mereka yang beriman dan bersedekah saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.”
أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهِمُ ٱلۡأَنۡهَٰرُ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ وَيَلۡبَسُونَ ثِيَابًا خُضۡرٗا مِّن سُندُسٍ وَإِسۡتَبۡرَقٍ مُّتَّكِِٔينَ فِيهَا عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِۚ نِعۡمَ ٱلثَّوَابُ وَحَسُنَتۡ مُرۡتَفَقٗا
Latin : Uulaa-ika lahum jannaatu ‘adnin tajrii min tahtihimul anhaaru yuhallauna fiihaa min asaawira min dzahabin wa yalbasuuna tsiyaaban khudhran min sundusin wa istabraqin muttaki-iina fiihaa ‘alal araa-iki ni’mats-tsawaabu wa hasunat murtafaqaa(n)
31. Artinya : “Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka nirwana ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam nirwana itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka menggunakan pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan kawasan istirahat yang indah;”
وَٱضۡرِبۡ لَهُم مَّثَلٗا رَّجُلَيۡنِ جَعَلۡنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيۡنِ مِنۡ أَعۡنَٰبٍ وَحَفَفۡنَٰهُمَا بِنَخۡلٍ وَجَعَلۡنَا بَيۡنَهُمَا زَرۡعٗا
Latin : Waadhrib lahum matsalaa rajulaini ja’alnaa li-ahadihimaa jannataini min a’naabin wa hafafnaahumaa binakhlin wa ja’alnaa bainahumaa zar’aa(n)
32. Artinya : “Dan berikanlah kepada mereka [880] sebuah perumpamaan dua orang pria [881], Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.”
كِلۡتَا ٱلۡجَنَّتَيۡنِ ءَاتَتۡ أُكُلَهَا وَلَمۡ تَظۡلِم مِّنۡهُ شَيۡٔٗاۚ وَفَجَّرۡنَا خِلَٰلَهُمَا نَهَرٗا
Latin : Kiltaal jannataini aatat ukulahaa wa lam tazhlim minhu syai-an wa fajjarnaa khilaalahumaa naharaa(n)
33. Artinya : “Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu,”
وَكَانَ لَهُۥ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَٰحِبِهِۦ وَهُوَ يُحَاوِرُهُۥٓ أَنَا۠ أَكۡثَرُ مِنكَ مَالٗا وَأَعَزُّ نَفَرٗا
Latin : Wa kaana lahuu tsamarun faqaala lishaahibihi wahuwa yuhaawiruhu anaa aktsaru minka maaalan wa-a’azzu nafara(n)
34. Artinya : dan beliau mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) dikala bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat”
وَدَخَلَ جَنَّتَهُۥ وَهُوَ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ قَالَ مَآ أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِۦٓ أَبَدٗا
Latin : Wa dakhala jannatahuu wa huwa zhaalimun linafsihii qaala maa azhunnu an tabiida hadazihii abadaa(n)
35. Artinya : Dan beliau memasuki kebunnya sedang beliau zalim terhadap dirinya sendiri [882]; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,”
وَمَآ أَظُنُّ ٱلسَّاعَةَ قَآئِمَةٗ وَلَئِن رُّدِدتُّ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهَا مُنقَلَبٗا
Latin : Wa maa azhunnussaa’ata qaa-imatan wa la-in rudidtu ilaa rabbii ajidanna khairan minhaa munqalabaa(n)
36. Artinya : “dan saya tidak mengira hari selesai zaman itu akan datang, dan kalau sekiranya saya kembalikan kepada Tuhanku, pasti saya akan mendapat kawasan kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu.”
قَالَ لَهُۥ صَاحِبُهُۥ وَهُوَ يُحَاوِرُهُۥٓ أَكَفَرۡتَ بِٱلَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٍ ثُمَّ سَوَّىٰكَ رَجُلٗا
Latin : Qaala lahuu shaahibuhu wa huwa yuhaawiruhu akafarta biil-ladzii khalaqaka min turaabin tsumma min nuthfatin tsumma sawwaaka rajulaa(n)
37. Artinya : Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya – sedang beliau bercakap-cakap dengannya: “Apakah kau kafir kepada (Tuhan) yang membuat kau dari tanah, kemudian dari setetes air mani, kemudian Dia menimbulkan kau seorang pria yang sempurna?”
لَّٰكِنَّا۠ هُوَ ٱللَّهُ رَبِّي وَلَآ أُشۡرِكُ بِرَبِّيٓ أَحَدٗا
Latin : Laakinnaa huwallahu rabbii wa laa usyriku birabbii ahadaa(n)
38. Artinya : “Tetapi saya (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan saya tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.”
وَلَوۡلَآ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ إِن تَرَنِ أَنَا۠ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا
Latin : Wa laulaa idz dakhalta jannataka qulta maa syaa-allahu laa quwwata illaa billahi in tarani anaa aqalla minka maalan wawaladaa(n)
39. Artinya : “Dan mengapa kau tidak menyampaikan waktu kau memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pemberian Allah). Sekiranya kau anggap saya lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan,”
فَعَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يُؤۡتِيَنِ خَيۡرٗا مِّن جَنَّتِكَ وَيُرۡسِلَ عَلَيۡهَا حُسۡبَانٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فَتُصۡبِحَ صَعِيدٗا زَلَقًا
Latin : Fa’asaa rabbii an yu’tiyani khairan min jannatika wa yursila ‘alaihaa husbaanan minassamaa-i fatushbiha sha’iidan zalaqaa(n)
40. Artinya : “maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin;”
أَوۡ يُصۡبِحَ مَآؤُهَا غَوۡرٗا فَلَن تَسۡتَطِيعَ لَهُۥ طَلَبٗا
Latin : Au yushbiha maa’uhaa ghauran falan tastathii’a lahuu thalabaa(n)
41. Artinya : “atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kau tidak sanggup menemukannya lagi.”
وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِۦ فَأَصۡبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيۡهِ عَلَىٰ مَآ أَنفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي لَمۡ أُشۡرِكۡ بِرَبِّيٓ أَحَدٗا
Latin : Wa uhiitha bitsamarihii fa-ashbaha yuqallibu kaffaihi ‘alaa maa anfaqa fiihaa wa hiya khaawiyatun ‘alaa ‘uruusyihaa wa yaquulu yaa laitanii lam usyrik birabbii ahadaa(n)
42. Artinya : Dan harta kekayaannya dibinasakan; kemudian ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan beliau berkata: “Aduhai kiranya dulu saya tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.”
وَلَمۡ تَكُن لَّهُۥ فِئَةٌ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مُنتَصِرًا
Latin : Wa lam takun lahuu fi-atun yanshuruunahuu min duunillahi wa maa kaana muntashiraa(n)
43. Artinya : “Dan tidak ada bagi beliau segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak sanggup membela dirinya.”
هُنَالِكَ ٱلۡوَلَٰيَةُ لِلَّهِ ٱلۡحَقِّۚ هُوَ خَيۡرٌ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ عُقۡبٗا
Latin : Hunaalikal walaayatu lillahil haqqi huwa khairun tsawaaban wa khairun ‘uqbaa(n)
44. Artinya : “Di sana pemberian itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia yakni sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.”
وَٱضۡرِبۡ لَهُم مَّثَلَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا كَمَآءٍ أَنزَلۡنَٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخۡتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلۡأَرۡضِ فَأَصۡبَحَ هَشِيمٗا تَذۡرُوهُ ٱلرِّيَٰحُۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٍ
مُّقۡتَدِرًا
Latin : Waadhrib lahum matsalal hayaatiddunyaa kamaa-in anzalnaahu minassamaa-i faakhtalatha bihi nabaatul ardhi fa-ashbaha hasyiiman tadzruuhurriyaahu wakaanallahu ‘alaa kulli syai-in muqtadiraa(n)
45. Artinya : “Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan yakni Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
ٱلۡمَالُ وَٱلۡبَنُونَ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱلۡبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيۡرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ أَمَلٗا
Latin : Al Maalu wal banuuna ziinatul hayaatiddunyaa wal baaqiyaatush-shaalihaatu khairun ‘inda rabbika tsawaaban wa khairun amalaa(n)
46. Artinya : “Harta dan belum dewasa yakni pelengkap kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh yakni lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”
وَيَوۡمَ نُسَيِّرُ ٱلۡجِبَالَ وَتَرَى ٱلۡأَرۡضَ بَارِزَةٗ وَحَشَرۡنَٰهُمۡ فَلَمۡ نُغَادِرۡ مِنۡهُمۡ أَحَدٗا
Latin : Wa yauma nusayyirul jibaala wa taral ardha baarizatan wa hasyarnaahum falam nughaadir minhum ahadaa(n)
47. Artinya : “Dan (ingatlah) akan hari (yang dikala itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kau akan sanggup melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka.”
وَعُرِضُواْ عَلَىٰ رَبِّكَ صَفّٗا لَّقَدۡ جِئۡتُمُونَا كَمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةِۢۚ بَلۡ زَعَمۡتُمۡ أَلَّن نَّجۡعَلَ لَكُم مَّوۡعِدٗا
Latin : Wa ‘uridhuu ‘alaa rabbika shaffan laqad ji-atumuunaa kamaa khalaqnaakum awwala marratin bal za’amtum allan naj’ala lakum mau’idaa(n)
48. Artinya : “Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kau tiba kepada Kami, sebagaimana Kami membuat kau pada kali yang pertama; bahkan kau menyampaikan bahwa Kami sekali-kali tidak akan memutuskan bagi kau waktu [883] (memenuhi) perjanjian.”
وَوُضِعَ ٱلۡكِتَٰبُ فَتَرَى ٱلۡمُجۡرِمِينَ مُشۡفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا
Latin : Wa wudhi’al kitaabu fataral mujrimiina musyfiqiina mimmaa fiihi wa yaquuluuna yaa wailatanaa maali haadzaal kitaabi laa yughaadiru shaghiiratan wa laa kabiiratan illaa ahshaahaa wa wajaduu maa ‘amiluu haadhiran wa laa yazhlimu rabbuka ahadaa(n)
49. Artinya : Dan diletakkanlah kitab, kemudian kau akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.”
وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ كَانَ مِنَ ٱلۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِۦٓۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُۥ وَذُرِّيَّتَهُۥٓ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِي وَهُمۡ لَكُمۡ عَدُوُّۢۚ بِئۡسَ لِلظَّٰلِمِينَ بَدَلٗا
Latin : Wa idz qulnaa lilmalaa-ikatiisjuduu li-aadama fasajaduu illaa ibliisa kaana minal jinni fafasaqa ‘an amri rabbihi afatattakhidzuunahuu wa dzurriyyatahuu auliyaa-a min duunii wa hum lakum ‘aduwwun bi`sa li-zhzhaalimiina badalaa(n)
50. Artinya : “Dan (ingatlah) dikala Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kau kepada Adam [884], maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia yakni dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kau mengambil beliau dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka yakni musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.”
مَّآ أَشۡهَدتُّهُمۡ خَلۡقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَا خَلۡقَ أَنفُسِهِمۡ وَمَا كُنتُ مُتَّخِذَ ٱلۡمُضِلِّينَ عَضُدٗا
Latin : Maa asyh-hadtuhum khalqas-samaawaati wal ardhi wa laa khalqa anfusihim wa maa kuntu muttakhidzal mudhilliina ‘adhudaa(n)
51. Artinya : “Aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.”
وَيَوۡمَ يَقُولُ نَادُواْ شُرَكَآءِيَ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُمۡ فَدَعَوۡهُمۡ فَلَمۡ يَسۡتَجِيبُواْ لَهُمۡ وَجَعَلۡنَا بَيۡنَهُم مَّوۡبِقٗا
Latin : Wa yauma yaquulu naaduu syurakaa-iyal-ladziina za’amtum fada’auhum falam yastajiibuu lahum wa ja’alnaa bainahum maubiqaa(n)
52. Artinya : Dan (ingatlah) akan hari (yang dikala itu) Dia berfirman: “Serulah olehmu sekalian sekutu-sekutu-Ku yang kau katakan itu.” Mereka kemudian memanggilnya tetapi sekutu-sekutu itu tidak membalas permintaan mereka dan Kami adakan untuk mereka kawasan kebinasaan (neraka).
وَرَءَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ٱلنَّارَ فَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مُّوَاقِعُوهَا وَلَمۡ يَجِدُواْ عَنۡهَا مَصۡرِفٗا
Latin : Wa ra-al mujrimuunannaara fazhannuu annahum muwaaqi’uuhaa wa lam yajiduu ‘anhaa mashrifaa(n)
53. Artinya : “Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan kawasan berpaling dari padanya.”
وَلَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِي هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ لِلنَّاسِ مِن كُلِّ مَثَلٖۚ وَكَانَ ٱلۡإِنسَٰنُ أَكۡثَرَ شَيۡءٍ جَدَلٗا
Latin : Wa laqad sharrafnaa fii haadzaal quraani li-nnaasi min kulli matsalin wa kaanal insaanu aktsara syai-in jadalaa(n)
54. Artinya : “Dan bekerjsama Kami telah mengulang-ulangi bagi insan dalam Al Alquran ini majemuk perumpamaan. Dan insan yakni makhluk yang paling banyak membantah.”
وَمَا مَنَعَ ٱلنَّاسَ أَن يُؤۡمِنُوٓاْ إِذۡ جَآءَهُمُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّهُمۡ إِلَّآ أَن تَأۡتِيَهُمۡ سُنَّةُ ٱلۡأَوَّلِينَ أَوۡ يَأۡتِيَهُمُ ٱلۡعَذَابُ قُبُلٗا
Latin : Wa maa mana’annaasa an yu’minuu idz jaa-ahumul hudaa wa yastaghfiruu rabbahum illaa an ta`tiyahum sunnatul awwaliina au ya’tiyahumul ‘adzaabu qubulaa
55. Artinya : “Dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi insan dari beriman, dikala petunjuk telah tiba kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya aturan (Allah yang telah berlalu pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata.”
وَمَا نُرۡسِلُ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَۚ وَيُجَٰدِلُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِٱلۡبَٰطِلِ لِيُدۡحِضُواْ بِهِ ٱلۡحَقَّۖ وَٱتَّخَذُوٓاْ ءَايَٰتِي وَمَآ أُنذِرُواْ هُزُوٗا
Latin : Wa maa nursilul mursaliina illaa mubasy-syiriina wa mundziriina wa yujaadilul-ladziina kafaruu bil baathili liyudhidhuu bihil haqqa wa-attakhadzuu aayaatii wa maa undziruu huzuwaa(n)
56. Artinya : “Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa info bangga dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil biar dengan demikian mereka sanggup melenyap kan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan- peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan.”
وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بَِٔايَٰتِ رَبِّهِۦ فَأَعۡرَضَ عَنۡهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتۡ يَدَاهُۚ إِنَّا جَعَلۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ أَكِنَّةً أَن يَفۡقَهُوهُ وَفِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرٗاۖ وَإِن تَدۡعُهُمۡ إِلَى ٱلۡهُدَىٰ فَلَن يَهۡتَدُوٓاْ إِذًا أَبَدٗا
Latin : Wa man azhlamu mimman dzukkira biaayaati rabbihi fa-a’radha ‘anhaa wa nasiya maa qaddamat yadaahu innaa ja’alnaa ‘alaa quluubihim akinnatan an yafqahuuhu wafii aadzaanihim waqra(n), wa-in tad’uhum ilal hudaa falan yahtaduu idzan abadaa(n)
57. Artinya : “Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya kemudian beliau berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di pendengaran mereka; dan kendatipun kau menyeru mereka kepada petunjuk, pasti mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.”
وَرَبُّكَ ٱلۡغَفُورُ ذُو ٱلرَّحۡمَةِۖ لَوۡ يُؤَاخِذُهُم بِمَا كَسَبُواْ لَعَجَّلَ لَهُمُ ٱلۡعَذَابَۚ بَل لَّهُم مَّوۡعِدٞ لَّن يَجِدُواْ مِن دُونِهِۦ مَوۡئِلٗا
Latin : Wa rabbukal ghafuuru dzuurrahmati lau yu’aakhidzuhum bimaa kasabuu la’ajjala lahumul ‘adzaaba bal lahum mau’idun lan yajiduu min duunihii mau-ilaa(n)
58. Artinya : “Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka lantaran perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan kawasan berlindung dari padanya.”
وَتِلۡكَ ٱلۡقُرَىٰٓ أَهۡلَكۡنَٰهُمۡ لَمَّا ظَلَمُواْ وَجَعَلۡنَا لِمَهۡلِكِهِم مَّوۡعِدٗا
Latin : Wa tilkal quraa ahlaknaahum lammaa zhalamuu wa ja’alnaa limahlikihim mau’idaa(n)
59. Artinya : “Dan (penduduk) negeri telah Kami binasakan dikala mereka berbuat zalim, dan telah Kami memutuskan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.”
وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا
Latin : Wa idz qaala muusaa lifataahu laa abrahu hattaa ablugha majma’al bahraini au amdhiya huqubaa(n)
60. Artinya : Dan (ingatlah) dikala Musa berkata kepada muridnya [885]: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum hingga ke pertemuan dua buah lautan; atau saya akan berjalan hingga bertahun-tahun.”
فَلَمَّا بَلَغَا مَجۡمَعَ بَيۡنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِ سَرَبٗا
Latin : Falammaa balaghaa majma’a bainihimaa nasiyaa huutahumaa fa-attakhadza sabiilahu fiil bahri saraba(n)
61. Artinya : “Maka tatkala mereka hingga ke pertemuan dua buah maritim itu, mereka lalai akan ikannya, kemudian ikan itu melompat mengambil jalannya ke maritim itu.”
فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَىٰهُ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا
Latin : Falammaa jaawazaa qaala lifataahu aatinaa ghadaa-anaa laqad laqiinaa min safarinaa haadzaa nashabaa(n)
62. Artinya : Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah kemari masakan kita; bekerjsama kita telah merasa letih lantaran perjalanan kita ini.”
قَالَ أَرَءَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ أَنۡ أَذۡكُرَهُۥۚ وَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِ عَجَبٗا
Latin : Qaala ara-aita idz awainaa ilash-shakhrati fa-innii nasiitul huuta wa maa ansaaniihu ilaasy-syaithaanu an adzkurahu wa-attakhadza sabiilahuu fiil bahri ‘ajabaa(n)
63. Artinya : Muridnya menjawab: “Tahukah kau tatkala kita mencari kawasan berlindung di watu tadi, maka bekerjsama saya lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak yakni yang melupakan saya untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke maritim dengan cara yang asing sekali.”
قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِۚ فَٱرۡتَدَّا عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا
Latin : Qaala dzaalika maa kunnaa nabghi faartaddaa ‘alaa aatsaarihimaa qashashaa(n)
64. Artinya : Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.
فَوَجَدَا عَبۡدٗا مِّنۡ عِبَادِنَآ ءَاتَيۡنَٰهُ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا وَعَلَّمۡنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلۡمٗا
Latin : Fawajadaa ‘abdan min ‘ibaadinaa aatainaahu rahmatan min ‘indinaa wa ‘allamnaahu min ladunnaa ‘ilmaa(n)
65. Artinya : Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami [886].”
قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا
Qaala lahuu muusaa hal attabi’uka ‘alaa an tu’allimani mimmaa ‘ullimta rusydaa(n)
66. Artinya : Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah saya mengikutimu supaya kau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”
قَالَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا
Latin : Qaala innaka lan tastathii’a ma’iya shabraa(n)
67. Artinya : Dia menjawab: “Sesungguhnya kau sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.”
وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا
Latin : Wa kaifa tashbiru ‘alaa maa lam tuhith bihii khubraa(n)
68. Artinya : “Dan bagaimana kau sanggup sabar atas sesuatu, yang kau belum mempunyai pengetahuan yang cukup ihwal hal itu?”
قَالَ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرٗا وَلَآ أَعۡصِي لَكَ أَمۡرٗا
Latin : Qaala satajidunii in syaa-allahu shaabiran wa laa a’shii laka amraa(n)
69. Artinya : Musa berkata: “Insya Allah kau akan mendapati saya sebagai orang yang sabar, dan saya tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.”
قَالَ فَإِنِ ٱتَّبَعۡتَنِي فَلَا تَسَۡٔلۡنِي عَن شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ أُحۡدِثَ لَكَ مِنۡهُ ذِكۡرٗا
Latin : Qaala fa-iniittaba’tanii falaa tas-alnii ‘an syai-in hattaa uhditsa laka minhu dzikraa(n)
70. Artinya : Dia berkata: “Jika kau mengikutiku, maka janganlah kau menanyakan kepadaku ihwal sesuatu apapun, hingga saya sendiri menerangkannya kepadamu.”
فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا رَكِبَا فِي ٱلسَّفِينَةِ خَرَقَهَاۖ قَالَ أَخَرَقۡتَهَا لِتُغۡرِقَ أَهۡلَهَا لَقَدۡ جِئۡتَ شَيًۡٔا إِمۡرٗا
Latin : Faanthalaqaa hattaa idzaa rakibaa fiissafiinati kharaqahaa qaala akharaqtahaa litughriqa ahlahaa laqad ji-ata syai-an imraa(n)
71. Artinya : Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu kemudian Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kau melobangi perahu itu kesudahannya kau menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.
قَالَ أَلَمۡ أَقُلۡ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا
Latin : Qaala alam aqul innaka lan tastathii’a ma’iya shabraa(n)
72. Artinya : Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah saya telah berkata: “Sesungguhnya kau sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.”
قَالَ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرۡهِقۡنِي مِنۡ أَمۡرِي عُسۡرٗا
Latin : Qaala laa tu’aakhidznii bimaa nasiitu wa laa turhiqnii min amrii ‘usraa(n)
73. Artinya : Musa berkata: “Janganlah kau menghukum saya lantaran kelupaanku dan janganlah kau membebani saya dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.”
فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمٗا فَقَتَلَهُۥ قَالَ أَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا زَكِيَّةَۢ بِغَيۡرِ نَفۡسٍ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡٔٗا نُّكۡرٗا
Latin : Faanthalaqaa hattaa idzaa laqiyaa ghulaaman faqatalahu qaala aqatalta nafsan zakiyyatan bighairi nafsin laqad ji`ta syai-an nukraa(n)
74. Artinya : Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kau membunuh jiwa yang bersih, bukan lantaran beliau membunuh orang lain? Sesungguhnya kau telah melaksanakan suatu yang mungkar.”
قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا
Latin : Qaala alam aqul laka innaka lan tastathii’a ma’iya shabraa(n)
75. Artinya : Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa bekerjsama kau tidak akan sanggup sabar bersamaku?”
قَالَ إِن سَأَلۡتُكَ عَن شَيۡءِۢ بَعۡدَهَا فَلَا تُصَٰحِبۡنِيۖ قَدۡ بَلَغۡتَ مِن لَّدُنِّي عُذۡرٗا
Latin : Qaala in saaltuka ‘an syai-in ba’dahaa falaa tushaahibnii qad balaghta min ladunnii ‘udzraa(n)
76. Artinya : Musa berkata: “Jika saya bertanya kepadamu ihwal sesuatu setelah (kali) ini, maka janganlah kau memperbolehkan saya menyertaimu, bekerjsama kau sudah cukup menawarkan uzur padaku.”
فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهۡلَ قَرۡيَةٍ ٱسۡتَطۡعَمَآ أَهۡلَهَا فَأَبَوۡاْ أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارٗا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ فَأَقَامَهُۥۖ قَالَ لَوۡ شِئۡتَ لَتَّخَذۡتَ عَلَيۡهِ أَجۡرٗا
Latin : Faanthalaqaa hattaa idzaa atayaa ahla qaryatin astath’amaa ahlahaa fa-abau an yudhayyifuuhumaa fawajadaa fiihaa jidaaran yuriidu an yanqadh-dha fa-aqaamahu qaala lau syi`ta lattakhadzta ‘alaihi ajraa(n)
77. Artinya : Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya hingga kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapat dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kau mau, pasti kau mengambil upah untuk itu.”
قَالَ هَٰذَا فِرَاقُ بَيۡنِي وَبَيۡنِكَۚ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأۡوِيلِ مَا لَمۡ تَسۡتَطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرًا
Latin : Qaala haadzaa firaaqu bainii wa bainika sa-unabbi-uka bita`wiili maa lam tastathi’ ‘alaihi shabraa(n)
78. Artinya : Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara saya dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kau tidak sanggup sabar terhadapnya.”
أَمَّا ٱلسَّفِينَةُ فَكَانَتۡ لِمَسَٰكِينَ يَعۡمَلُونَ فِي ٱلۡبَحۡرِ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُم مَّلِكٌ يَأۡخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصۡبٗا
Latin : Ammaassafiinatu fakaanat limasaakiina ya’maluuna fiil bahri fa-aradtu an a’iibahaa wa kaana wa raa-ahum malikun ya’khudzu kulla safiinatin ghashbaa(n)
79. Artinya : “Adapun perahu itu yakni kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan saya bertujuan merusakkan perahu itu, lantaran di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.”
وَأَمَّا ٱلۡغُلَٰمُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤۡمِنَيۡنِ فَخَشِينَآ أَن يُرۡهِقَهُمَا طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗا
Latin : Wa ammaal ghulaamu fakaana abawaahu mu`minaini fakhasyiinaa an yurhiqahumaa thughyaanan wa kufraa(n)
80. Artinya : “Dan adapun anak muda itu, maka keduanya yakni orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa beliau akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.”
فَأَرَدۡنَآ أَن يُبۡدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيۡرٗا مِّنۡهُ زَكَوٰةٗ وَأَقۡرَبَ رُحۡمٗا
Latin : Fa-aradnaa an yubdilahumaa rabbuhumaa khairan minhu zakaatan wa aqraba ruhmaa(n)
81. Artinya : “Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).”
وَأَمَّا ٱلۡجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَٰمَيۡنِ يَتِيمَيۡنِ فِي ٱلۡمَدِينَةِ وَكَانَ تَحۡتَهُۥ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحٗا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ذَٰلِكَ تَأۡوِيلُ مَا لَمۡ تَسۡطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرٗا
Latin : Wa ammaal jidaaru fakaana lighulaamaini yatiimaini fiil madiinati wa kaana tahtahuu kanzun lahumaa wa kaana abuuhumaa shaalihan fa-araada rabbuka an yablughaa asyuddahumaa wa yastakhrijaa kanzahumaa rahmatan min rabbika, wa maa fa’altuhu ‘an amrii dzaalika ta`wiilu maa lam tasthi’ ‘alaihi shabraa(n)
82. Artinya : Adapun dinding rumah yakni kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya yakni seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki biar supaya mereka hingga kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah saya melakukannya itu berdasarkan kemauanku sendiri. Demikian itu yakni tujuan perbuatan-perbuatan yang kau tidak sanggup sabar terhadapnya.”
وَيَسَۡٔلُونَكَ عَن ذِي ٱلۡقَرۡنَيۡنِۖ قُلۡ سَأَتۡلُواْ عَلَيۡكُم مِّنۡهُ ذِكۡرًا
Latin : Wa yas-aluunaka ‘an dziil qarnaini qul sa-atluu ‘alaikum minhu dzikraa(n)
83. Artinya : Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) ihwal Dzulkarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu dongeng tantangnya.”
إِنَّا مَكَّنَّا لَهُۥ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَءَاتَيۡنَٰهُ مِن كُلِّ شَيۡءٍ سَبَبٗا
Latin : Innaa makkannaa lahu fiil ardhi wa aatainaahu min kulli syai-in sababaa(n)
84. Artinya : “Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah menawarkan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu,”
فَأَتۡبَعَ سَبَبًا
Latin : Fa-atba’a sababaa(n)
85. Artinya : “maka diapun menempuh suatu jalan.”
حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ مَغۡرِبَ ٱلشَّمۡسِ وَجَدَهَا تَغۡرُبُ فِي عَيۡنٍ حَمِئَةٖ وَوَجَدَ عِندَهَا قَوۡمٗاۖ قُلۡنَا يَٰذَا ٱلۡقَرۡنَيۡنِ إِمَّآ أَن تُعَذِّبَ وَإِمَّآ أَن تَتَّخِذَ فِيهِمۡ حُسۡنٗا
Latin : Hattaa idzaa balagha maghribasy-syamsi wa jadahaa taghrubu fii ‘ainin hami-atin wa wajada ‘indahaa qauman qulnaa yaa dzaal qarnaini immaa an tu’adz-dziba wa immaa an tattakhidza fiihim husnaa(n)
86. Artinya : Hingga apabila beliau telah hingga ketempat terbenam matahari, beliau melihat matahari terbenam [887] di dalam maritim yang berlumpur hitam, dan beliau mendapati di situ segolongan umat [888]. Kami berkata: “Hai Dzulkarnain, kau boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan [889] terhadap mereka.”
قَالَ أَمَّا مَن ظَلَمَ فَسَوۡفَ نُعَذِّبُهُۥ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِۦ فَيُعَذِّبُهُۥ عَذَابٗا نُّكۡرٗا
Latin : Qaala ammaa man zhalama fasaufa nu’adz-dzibuhu tsumma yuraddu ilaa rabbihii fayu’adz-dzibuhuu ‘adzaaban nukraa(n)
87. Artinya : Berkata Dzulkarnain: “Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian beliau kembalikan kepada Tuhannya, kemudian Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya.”
وَأَمَّا مَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَلَهُۥ جَزَآءً ٱلۡحُسۡنَىٰۖ وَسَنَقُولُ لَهُۥ مِنۡ أَمۡرِنَا يُسۡرٗا
Latin : Wa ammaa man aamana wa ‘amila shaalihan falahu jazaa-al husnaa wasanaquulu lahuu min amrinaa yusraa(n)
88. Artinya : “Adapun orang-orang yang beriman dan bersedekah saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang gampang dari perintah-perintah kami.”
ثُمَّ أَتۡبَعَ سَبَبًا
Latin : Tsumma atba’a sababaa(n)
89. Artinya : “Kemudian beliau menempuh jalan (yang lain).”
حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ مَطۡلِعَ ٱلشَّمۡسِ وَجَدَهَا تَطۡلُعُ عَلَىٰ قَوۡمٍ لَّمۡ نَجۡعَل لَّهُم مِّن دُونِهَا سِتۡرٗا
Latin : Hattaa idzaa balagha mathli’asy-syamsi wa jadahaa tathlu’u ‘alaa qaumin lam naj’al lahum min duunihaa sitraa(n)
90. Artinya : “Hingga apabila beliau telah hingga ke kawasan terbit matahari (sebelah Timur) beliau mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menimbulkan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari [890] itu,”
كَذَٰلِكَۖ وَقَدۡ أَحَطۡنَا بِمَا لَدَيۡهِ خُبۡرٗا
Latin : Kadzaalika wa qad ahathnaa bimaa ladaihi khubraa(n)
91. Artinya : “demikianlah. dan bekerjsama ilmu Kami mencakup segala apa yang ada padanya.”
ثُمَّ أَتۡبَعَ سَبَبًا
Latin : Tsumma atba’a sababaa(n)
92. Artinya : “Kemudian beliau menempuh suatu jalan (yang lain lagi).”
حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ بَيۡنَ ٱلسَّدَّيۡنِ وَجَدَ مِن دُونِهِمَا قَوۡمٗا لَّا يَكَادُونَ يَفۡقَهُونَ قَوۡلٗا
Latin : Hattaa idzaa balagha bainassaddaini wajada min duunihimaa qauman laa yakaaduuna yafqahuuna qaulaa(n)
93. Artinya : “Hingga apabila beliau telah hingga di antara dua buah gunung, beliau mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan [891].”
قَالُواْ يَٰذَا ٱلۡقَرۡنَيۡنِ إِنَّ يَأۡجُوجَ وَمَأۡجُوجَ مُفۡسِدُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَهَلۡ نَجۡعَلُ لَكَ خَرۡجًا عَلَىٰٓ أَن تَجۡعَلَ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَهُمۡ سَدّٗا
Latin : Qaaluuu yaa dzaal qarnaini inna ya’juuja wa ma’juuja mufsiduuna fiil ardhi fahal naj’alu laka kharjan ‘alaa an taj’ala bainanaa wa bainahum saddaa(n)
94. Artinya : Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, bekerjsama Ya’juj dan Ma’juj [892] itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami menawarkan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kau membuat dinding antara kami dan mereka?”
قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيۡرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجۡعَلۡ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَهُمۡ رَدۡمًا
Latin : Qaala maa makkannii fiihi rabbii khairun fa-a’iinuunii biquwwatin aj’al bainakum wa bainahum radmaa(n)
95. Artinya : Dzulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya yakni lebih baik, maka tolonglah saya dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), biar saya mengembangkan dinding antara kau dan mereka,”
ءَاتُونِي زُبَرَ ٱلۡحَدِيدِۖ حَتَّىٰٓ إِذَا سَاوَىٰ بَيۡنَ ٱلصَّدَفَيۡنِ قَالَ ٱنفُخُواْۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَعَلَهُۥ نَارٗا قَالَ ءَاتُونِيٓ أُفۡرِغۡ عَلَيۡهِ قِطۡرٗا
Latin : Aatuunii zubaral hadiidi hattaa idzaa saawaa bainash-shadafaini qaalaanfukhuu hattaa idzaa ja’alahuu naaran qaala aatuunii ufrigh ‘alaihi qithraa(n)
96. Artinya : berilah saya potongan-potongan besi.” Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: “Tiuplah (api itu).” Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah saya tembaga (yang mendidih) biar saya kutuangkan ke atas besi panas itu.”
فَمَا ٱسۡطَٰعُوٓاْ أَن يَظۡهَرُوهُ وَمَا ٱسۡتَطَٰعُواْ لَهُۥ نَقۡبٗا
Latin : Famaaasthaa’uu an yazhharuuhu wa maaastathaa’uu lahuu naqbaa(n)
97. Artinya : “Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya.”
قَالَ هَٰذَا رَحۡمَةٌ مِّن رَّبِّيۖ فَإِذَا جَآءَ وَعۡدُ رَبِّي جَعَلَهُۥ دَكَّآءَۖ وَكَانَ وَعۡدُ رَبِّي حَقّٗا
Qaala haadzaa rahmatun min rabbii fa-idzaa jaa-a wa’du rabbii ja’alahuu dakkaa-a wa kaana wa’du rabbii haqqaa(n)
98. Artinya : Dzulkarnain berkata: “Ini (dinding) yakni rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah tiba akad Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan akad Tuhanku itu yakni benar.”
وَتَرَكۡنَا بَعۡضَهُمۡ يَوۡمَئِذٖ يَمُوجُ فِي بَعۡضٖۖ وَنُفِخَ فِي ٱلصُّورِ فَجَمَعۡنَٰهُمۡ جَمۡعٗا
Latin : Wa taraknaa ba’dhahum yauma-idzin yamuuju fii ba’dhin wa nufikha fiish-shuuri fajama’naahum jam’aa(n)
99. Artinya : “Kami biarkan mereka di hari itu [893] bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi [894] sangkakala, kemudian Kami kumpulkan mereka itu semuanya,”
وَعَرَضۡنَا جَهَنَّمَ يَوۡمَئِذٍ لِّلۡكَٰفِرِينَ عَرۡضًا
Latin : Wa ‘aradhnaa jahannama yauma-idzil(n)-lilkaafiriina ‘ardhaa(n)
100. Artinya : “dan Kami nampakkan Jahannam pada hari itu [895] kepada orang-orang kafir dengan jelas,”
ٱلَّذِينَ كَانَتۡ أَعۡيُنُهُمۡ فِي غِطَآءٍ عَن ذِكۡرِي وَكَانُواْ لَا يَسۡتَطِيعُونَ سَمۡعًا
Latin : Al ladziina kaanat a’yunuhum fii ghithaa-in ‘an dzikrii wa kaanuu laa yastathii’uuna sam’aa(n)
101. Artinya : “yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan gejala kebesaran-Ku, dan yakni mereka tidak sanggup mendengar.”
أَفَحَسِبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَن يَتَّخِذُواْ عِبَادِي مِن دُونِيٓ أَوۡلِيَآءَۚ إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا جَهَنَّمَ لِلۡكَٰفِرِينَ نُزُلٗا
Latin : Afahasibal-ladziina kafaruu an yattakhidzuu ‘ibaadii min duunii auliyaa-a innaa a’tadnaa jahannama lilkaafiriina nuzulaa(n)
102. Artinya : “maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahannam kawasan tinggal bagi orang-orang kafir.”
قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِٱلۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَٰلًا
Latin : Qul hal nunabbi-ukum bil akhsariina a’maaalaa(n)
103. Artinya : Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu ihwal orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”
ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا
Latin : Al Ladziina dhalla sa’yuhum fiil hayaatiddunnyaa wa hum yahsabuuna annahum yuhsinuuna shun’aa(n)
104. Artinya : “Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”
أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بَِٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ وَلِقَآئِهِۦ فَحَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ فَلَا نُقِيمُ لَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَزۡنٗا
Latin : Uulaa-ikal-ladziina kafaruu biaayaati rabbihim wa liqaa-ihii fahabithat a’maaluhum falaa nuqiimu lahum yaumal qiyaamati waznaa(n)
105. Artinya : “Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia [896], maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu evaluasi bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.”
ذَٰلِكَ جَزَآؤُهُمۡ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُواْ وَٱتَّخَذُوٓاْ ءَايَٰتِي وَرُسُلِي هُزُوًا
Latin : Dzaalika jazaa’uhum jahannamu bimaa kafaruu wa-attakhadzuu aayaatii warusulii huzuwaa(n)
106. Artinya : “Demikianlah tanggapan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menimbulkan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.”
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ كَانَتۡ لَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلۡفِرۡدَوۡسِ نُزُلًا
Latin : Innal-ladziina aamanuu wa ‘amiluush-shaalihaati kaanat lahum jannaatul firdausi nuzulaa(n)
107. Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan bersedekah saleh, bagi mereka yakni nirwana Firdaus menjadi kawasan tinggal,”
خَٰلِدِينَ فِيهَا لَا يَبۡغُونَ عَنۡهَا حِوَلٗا
Latin : Khaalidiina fiihaa laa yabghuuna ‘anhaa hiwalaa(n)
108. Artinya : “mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya.”
قُل لَّوۡ كَانَ ٱلۡبَحۡرُ مِدَادٗا لِّكَلِمَٰتِ رَبِّي لَنَفِدَ ٱلۡبَحۡرُ قَبۡلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَٰتُ رَبِّي وَلَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِهِۦ مَدَدٗا
Latin : Qul lau kaanal bahru midaadan likalimaati rabbii lanafidal bahru qabla an tanfada kalimaatu rabbii wa lau ji`naa bimitslihii madadaa(n)
109. Artinya : Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”
قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٌ وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا
Latin : Qul innamaa anaa basyarun mitslukum yuuha ilayya annamaa ilaahukum ilaahun waahidun faman kaana yarjuu liqaa-a rabbihii falya’mal ‘amalan shaalihan walaa yusyrik bi’ibaadati rabbihii ahadaa(n)
110. Katakanlah: Sesungguhnya saya ini insan biasa ibarat kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa bekerjsama Tuhan kau itu yakni Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”
Manfaat Surat Al kahfi
1. Membaca Al-Kahfi pada Hari Jumat akan terhindar dari fitnah Dajjal
Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa dengan rajin membaca surat ini pada hari jumat maka akan terhindar dari fitnah tersebut.
“Barang siapa membaca Surah Al Kahfi pada hari Jum’at, maka Dajjal tidak bisa memudharatkannya,” (HR-Dailami).
“Siapa yang membaca dari Surah Al-Kahfi, maka jadilah baginya cahaya dari kepala hingga kakinya dan siapa yang membaca keseluruhannya, maka jadilah baginya cahaya antara langit dan bumi,” (HR Ahmad).
2. Membaca Al Kahfi pada hari Jumat akan mendapat pengampunan dosa diantara dua Jumat
Dalam riwayat lain masih dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya hingga ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.”
3. Membaca Surah Al Kahfi pada Hari Jumat juga akan mendapat pancaran cahaya diri
“Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya beliau dan Baitul ‘atiq.” (HR Al-Hakim)
4. Rumah yang dibacakan surah al-Khafi dan al Baqarah tidak akan dimasuki setan sepanjang malam itu
Sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Ibnu Mardawaih dari Abdullah Bin Mughaffal disebutkan bahwa. Bahkan sunnah membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum’at atau pada hari Jum’atnya, dan malam Jum’at diawali semenjak terbenamnya matahari pada hari Kamis. Kesempatan ini berakhir hingga terbenamnya matahari pada hari Jum’atnya.
5. Dipancarkan Cahaya Sejauh Dirinya dan Ka’bah
Diriwayatkan dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri bahwa Nabi Saw bersabda: “Barangsiapa membaca yang surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya beliau dan Baitul ‘Atiq (Ka’bah).” (Sunan Ad-Darimi, no. 3273.)
6. Dipancarkan Cahaya Di antara Dua Jumat
Dalam riwayat lain, masih dari Abu Sa’id al-Khudri ra, “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum’at.”
(HR. Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249. Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani mengomentari hadits ini dalam Takhrij al-Adzkar, “Hadits hasan.” Beliau menyatakan bahwa hadits ini yakni hadits paling besar lengan berkuasa ihwal surat Al-Kahfi.)
7. Menerangi di Hari Kiamat
Abdullah bin Umar ra berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya hingga ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.”
Dari diam-diam surat al-kahfi bisa dijadikan sebagai amalan terbaik bagi setiap umat muslimin terutama di bacakan di waktu dan jam-jam tertentu sebagaimana yang terdapat pada keutamaan bacaan surat al-Kahfi latin manfaat dan artinya sesuai dengan kaidah yang ada di dalamnya.

Belum ada Komentar untuk "Keutamaan Bacaan Surat Al-Kahfi Latin Manfaat Dan Artinya"
Posting Komentar