Pengertian Syarat Sah Dan Rukun Shalat Lengkap Dengan Bacaannya

Dua pengertian yang menjadi salah satu sumber keutamaan dalam melaksanakan sebuah amalan baik yang hukumnya fardlu maupun yang hukumnya sunnat itu yaitu Syarat dan Rukun. Dimana keduanya ini merupakan hal yang paling penting dalam melaksanakan sebuah amalan ibadah. Sebab kalau tidak memenuhi salah satu dari keduanya tersebut, maka hukumnya tidak sah, menyerupai salah satunya sarat dan rukun yang ada dalam shalat.


Secara definisi umum terdapat dua perbedaan dari klarifikasi antar rukun shalat dan saratnya, Dimana syarat ialah sesuatu yang harus dipenuhi sebelum menjalankan ibadah dan harus kontinyu hingga selesainya ibadah tersebut. Sedangkan rukun ialah sesuatu yang ada di dalam ibadah lantaran ia kepingan darinya dan tidak harus kontinyu menjalani sesuatu tersebut hingga selesainya suatu ibadah.


Dan secara konsekuensi keduanya merupakan hal yang harus ada sebelum proses pelaksanaan amalan ibadah tersebut itu dilakukan. Kaprikornus sebelum mengerjakan sebuah amalan baik fardhu maupun sunnat itu langkah pertama ialah dengan memenuhi sarat syahnya menyerupai wudhu menjadi syarat sah terhadap sholat, yang kedua ialah sehabis sarat itu dilakukan maka pelaksanaan rukun pada amalan ibadah itu.


Dua pengertian yang menjadi salah satu sumber keutamaan dalam melaksanakan sebuah amalan b Pengertian Syarat Sah dan Rukun Shalat Lengkap Dengan Bacaannya


Demikian pula klarifikasi detail mengenai rukun shalat itu tidak lepas dari adanya keterangan yang menjelaskan pada di wajibkan ataupun di fardlukannya sholat lima waktu sehari semalam. Yang secara pemaknaannya itu berafiliasi dengan sholat-sholat sunnat khususnya dalam soal rukun sholatnya tersebut. Baik dari mulai rukun qolbi yaitu bacaan sholat yang wajib ada pada hati.


Selanjutnya rukun Fa’li atau pekerjaaan dalam sholat yang termasuk pada rukun sholat dan juga rukun qouli yaitu ucapan dalam sholat yang termasuk pada rukun di dalamnya. Maka dari ketiga pembagian rukun ini, maka semuanya harus ada dan kumpul ketika pelaksanaan sholat tersebut. Sehingga kalau tidak ada dari salah satunya, maka itu aturan sholatnya tidak syah sebagaimana banyak keterangan dalam kitab-kitab Fiqh.


Adapun keterangan yang menjelaskan wacana di fardlukan sholat lima waktu itu, sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Baginda Rasululloh S.A.W dengan redaksinya sebagai berikut:


فَرَّضَ اللهُ على أُمَّتِى لَيْلَةَ الإِسْرَاءِ خَمْسِيْنَ صَلاَةً فَلَمْ أَزَلْ أُرَاجِعُهُ وأَسْأَلهُُ ُالتَّخْفِيْفَ حَتّى جَعَلَهَا خَمْسًا فِىْ كُلِّ يَوْمٍ ولَيْلَةٍ


Artinya: “Allah SWT pada malam Isra’ mewajibkabkan atas umatku lima puluh shalat, kemudian saya terus-menerus kembali kepada Allah dan memohon keringan sehingga Allah menjadikannya menjadi lima shalat sehari semalam.”


Dari adanya keterangan hadits inilah, maka diperjelas lagi oleh para Ulama-Ulama terutama Ulama Fiqh tentnag hal ikhwal yang berafiliasi dengan sholat, mulai dari syarat sah, hal-hal yang membatalkan sholat serta juga dengan Rukun sholat itu sendiri. Nah supaya lebih terperinci ada berapa dan apa saja yang termasuk pada rukun sholat itu. Berikut ulasan yang didapatkan salah satu situs nu terpercaya yang menjelaskan wacana pengertian rukun sholat selengkapnya.


1. Niat

Niat dilakukan dalam hati bersamaan dengan takbîratul ihrâm. Waktu berniat ialah semenjak mengucapkan hamzahnya kaka Allah dalam takbir hingga final râ’nya kata akbar. Yang dimaksud dengan ‘niat’ di sini ialah menggambarkan di dalam hati bentuk shalat secara global disertai bermaksud melakukannya, menyatakan ke-fardhu-an dan memilih shalatnya (semisal zhuhur). Sedangkan yang dimaksud dengan “bersamaan” ialah membersamakan citra hati tersebut dengan takbir[3].

Contoh lafal niat ialah menyerupai berikut:


أُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى


Membaca lafal ini aturan sunnat sebelum takbir. Sedangkan niat yang difardhukan ialah niat di dalam hati bersamaan dengan takbir.

Berikut ini ialah bacaan-bacaan niat shalat. Kata yang bergaris bawah ialah unsur wajib dari niat:[4]

a. Lafadz Niat shalat zhuhur:



اُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى


Artinya: Saya melaksanakan shalat fardhu zhuhur sebanyak empat rakaat dengan menghadap kiblat, pada waktunya (menjadi makmum/imam) lantaran Allah Ta’ala.


b. Lafadz Niat shalat ashar:



أُصَلِّى فَرْضَ العَصْرِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى


Artinya: Saya melaksanakan shalat fardhu ashar sebanyak empat rakaat dengan menghadap kiblat, pada waktunya (menjadi makmum/imam) lantaran Allah Ta’ala.


c. Lafadz Niat shalat maghrib:



أُصَلِّى فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى


Artinya: Saya melaksanakan shalat fardhu maghrib sebanyak tiga rakaat dengan menghadap kiblat, pada waktunya (menjadi makmum/imam) lantaran Allah Ta’ala.


d. Lafadz Niat shalat isya’:



أُصَلِّى فَرْضَ العِشَاء ِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى


Artinya: Saya melaksanakan shalat fardhu isya’ sebanyak empat rakaat dengan menghadap kiblat, pada waktunya (menjadi makmum/imam) lantaran Allah Ta’ala.


e. Lafadz Niat shalat shubuh:



أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْح رَكَعتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى


Artinya: Saya melaksanakan shalat fardhu subuh sebanyak dua rakaat dengan menghadap kiblat, pada waktunya (menjadi makmum/imam) lantaran Allah Ta’ala.

Melengkapi niat shalat dengan pernyataan “menghadap kiblat, ada’ atau qadha’, semata lantaran Allah dan memilih jumlah rakaat” hukumnya sunnat.


2. Takbîratul ihrâm

Bacaan takbîratul ihrâm adalah:



أللهُ أَكْبَرْ


Dalam mengucapkan takbir, orang yang shalat wajib membacanya dengan tepat dan benar.

Saat takbir sunnat mengangkat kedua tangan. Bagi pria dengan cara:

1) posisi tangan berada di atas pundak;

2) ibu jari lurus dengan daun indera pendengaran kepingan bawah;

3) jari-jari agak direnggangkan;

4) ujung jari-jari diluruskan dengan daun indera pendengaran kepingan atas dan condong ke arah kiblat.


Bagi orang wanita praktek mengangkat tangannya sama dengan praktekya laki-laki, dan ada ulama yang menyatakan (qîl) tangannya diangkat tidak terlalu tinggi kira-kira ujung jari-jari lurus dengan bahu.


3. Berdiri bagi orang yang mampu

Orang yang tidak bisa berdiri, maka harus melaksanakan shalat dengan duduk. Orang yang tidak bisa shalat dengan cara duduk, maka, harus melaksanakan shalat dengan cara tidur miring. Bila dengan cara tidur miring masih tidak memungkinkan, maka harus melaksanakan shalat dengan cara tidur terlentang. Jika masih tidak bisa melakukannya dengan tidur terlentang, maka harus melaksanakan shalat instruksi dengan kelopak mata. Jika masih tidak memungkinkan melakukannya dengan cara tersebut, maka harus menjalankan rukun shalat dalam hati. Keterangan lebih lengkap dijelaskan dalam kepingan Shalat Ma’dzûr.


4. Membaca surat Fâtihah di setiap rakaat

Jika tidak bisa membaca surat Fâtihah, lantaran gres masuk Islam misalnya, maka alternatifnya harus membaca tujuh ayat lain yang jumlah hurufnya tidak kurang dari jumlah huruf-huruf yang terdapat dalam surat Fâtihah. Jika tidak bisa membaca tujuh ayat lain sama sekali, maka harus membaca tujuh macam dzikir atau doa dengan jumlah karakter yang sekiranya tidak kurang dari jumlah hurufnya surat Fâtihah. Jika tidak bisa membaca tujuh macam dzikir atau doa, maka harus berdiri (diam) dalam waktu yang kira-kira cukup untuk membaca Fâtihah. Bagi orang yang hanya bisa membaca sebagian dari surat Fâtihah, maka beliau harus mengulang-ulanginya hingga jumlah hurufnya tidak kurang dari jumlah karakter yang terdapat dalam surat Fâtihah.


Pembacaan surat Fâtihah, harus sesuai dengan urutan ayat yang ada di dalam al-Qur’an. Selain itu, juga harus berkesinambungan (muwâlat). Artinya, harus membaca berkesinambungan antara satu kalimat dengan kalimat berikutnya, tidak dipisah dengan diam, atau membaca dzikir yang tidak ada hubungannya dengan shalat. Lain halnya kalau dzikir pemisah itu masih berafiliasi dengan shalat, semisal membaca âmîn di pertengahan Fâtihah lantaran mengamini bacaan Fâtihah imam.


Diam bisa menghipnotis pada kesinambungan (muwâlat) Fâtihah, apabila dilakukan dalam waktu yang cukup usang tanpa ada udzur. Atau membisu sebentar, tapi memang bertujuan untuk memutus bacaan. Jika diamnya lantaran lupa bacaan Fâtihah atau tidak tahu bahwa muwâlat itu wajib, maka hukumnya tidak apa-apa, baik waktu diamnya usang atau sebentar, alasannya hal itu dianggap udzur.


Pembacaan Fâtihah harus lengkap, harus menyuarakan tasydîdnya yang jumlahnya ada 14, juga mengucapkan karakter dengan benar (sesuai makhraj/tempat keluarnya huruf). Jangan hingga ada salah satu karakter yang dihilangkan dari surat Fâtihah, atau mengubah bacaan karakter sehingga mengakibatkan maknanya tidak benar.


5. Rukû‘ disertai thuma’nînah

Rukû‘ dengan cara membungkukkan tubuh, hingga kira-kira kedua tangan bisa meraih lutut. Sebelum rukû‘ sunnat mengangkat tangan dan takbir terlebih dahulu.

Sedangkan cara rukû‘ yang lebih tepat bagi pria ialah dengan:

1) membungkukkan badan hingga kira-kira tulang belakang punggung (verterbrate) dan leher serta kepala bisa lurus;

2) menegakkaan kedua lutut;

3) telapak tangan meraih lutut;

4) jari-jari tangan direnggangkan sedikit semoga jari-jari tidak berpaling dari arah kiblat.

Pada ketika rukû‘ sunnat membaca tasbîh di bawah ini sebanyak tiga kali:


سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ


Artinya: Maha suci Tuhanku yang Maha Agung dan dengan memuji-Nya.


6. I’tidâl disertai thuma’nînah

Caranya dengan berdiri tegak sehabis berdiri dari rukû‘. I’tidâl merupakan rukun qashîrah (pendek) yang dihentikan diperpanjang. Bahkan, kalau memperlama i’tidâl bukan lantaran membaca dzikir yang disyariatkan (bisa lantaran membaca dzikir yang tidak disyariatkan atau lantaran diam) sehingga menyamai lamanya membaca Fâtihah, maka shalatnya batal[6].


Pada ketika i’tidâl tangan sunnat dilepas lurus ke bawah dan tidak menggerak-gerakkannya. Sedangkan ketika berdiri dari rukû‘ untuk melaksanakan i’tidâl sunnat membaca:


سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَه


Artinya: Allah Maha Mendengar terhadap orang yang memuji-Nya

Ketika posisi badan sudah tegak (i’tidâl) maka sunnat membaca:


رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّموَاتِ وَمِلْءُ الاَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئتَ مِنْ شَيْئٍ بَعْدُ


Artinya: Ya Allah Tuhan kami, bagi-Mu segala puji sepenuh isi langit dan bumi dan sepenuh barang yang Engkau kehendaki sehabis itu.


7. Sujud dua kali disertai thuma’nînah

Caranya, dengan meletakkan tujuh anggota badan di atas daerah shalat, yaitu kening, kedua lutut, kedua telapak tangan dan telapak jemari kedua kaki.

Adapun yang disunnatkan dalam pelaksanaan sujud sebagai berikut:

1) meletakkan kedua lutut ke daerah shalat terlebih dahulu dan merenggangkannya kira-kira satu jengkal; kemudian

2) meletakkan kedua telapak tangan lurus dengan pundak, sedangkan lengan diangkat (tidak ditempelkan ke daerah shalat), dan merapatkan jemari tangan tanpa digenggam serta menghadapkannya ke arah kiblat; kemudian

3) meletakkan dahi bersama dengan meletakkan hidung, sedang mata tidak terpejam;

4) merenggangkan telapak kaki kira-kira satu jengkal, menegakkan dan memperlihatkannya (tidak ditutupi) serta menghadapkan punggung jemari ke arah kiblat[7].


Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam melaksanakan sujud:

1.Pertama, menurunkan badan dengan maksud melaksanakan sujud. Jadi, kalau contohnya ia terjatuh dari i’tidâl lantaran mengantuk tanpa ada maksud untuk melaksanakan sujud maka sujudnya tidak dianggap, dan harus kembali ke i’tidâl.

2.Kedua, ketujuh anggota sujud (dahi, dua telapak tangan, dua lutut, jari-jari kaki kiri dan kanan) membisu secara bersamaan ketika melaksanakan sujud. Jadi, kalau pada ketika sujud salah satu telapak tangan ada yang terangkat, dan ketika telapak tangan itu diletakkan, ada anggota sujud lain yang diangkat, maka sujudnya tidak cukup.

3.Ketiga, meletakkan sebagian dahi dengan keadaan terbuka. Jika pada sebagian dahi yang dibentuk sujud itu terdapat penghalang maka sujudnya tidak sah, kecuali bila penghalangnya berupa perban yang menutupi seluruh permukaan dahi disebabkan terdapat luka sekiranya berdampak negatif kalau dilepaskan, maka sujudnya tetap sah.

4.Keempat, dahi harus sedikit ditekankan ke daerah sujud. Ukuran tekanannya, kira-kira kalau contohnya diletakkan kapas, maka kapas itu akan terpenyet.

5.Kelima, sujud dilakukan dalam posisi menungging. Artinya posisi badan kepingan bawah (pantat dan anggota badan sekitarnya) lebih tinggi dari pada kepala, pundak dan kedua tangan. Jadi, apabila terbalik (posisi kepala lebih tinggi atau sama dengan kepingan bawah tubuh), menyerupai sujud di tangga dan kepala berada di anak tangga yang atas, maka sujudnya tidak sah, kecuali bila ada suatu hal yang mengharuskan demikian.

6.Keenam, bersujud pada selain barang yang digunakan atau dibawa oleh orang yang shalat yang bergerak dengan gerakannya. Jadi, kalau contohnya ia bersujud di ujung sorban yang dipakainya, maka sujudnya tidak sah.[8] Kecuali kalau bersujud di ujung sorban yang panjang dan tidak bergerak pada ketika mushalli melaksanakan gerakan shalat, maka sujudnya tetap sah.

Ketika sujud, sunnat membaca tasbîh berikut ini sebanyak tiga kali:


سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ


Artinya: Maha Suci Tuhanku Yang Maha Luhur dan dengan memuji-Nya.


8. Duduk di antara dua sujud dengan disertai thuma’nînah

Menurut qaul mu’tamad (pendapat yang sanggup dijadikan dasar), duduk di antara dua sujud termasuk rukun pendek yang dihentikan diperpanjang hingga melebihi lamanya bacaan minimal dari tasyahhud.

Kedua telapak tangan ketika duduk diletakkan di atas kedua paha sekiranya ujung jari-jari tangan lurus dengan lutut dan semua jemarinya dirapatkan serta diluruskan ke arah kiblat.

Saat duduk disunnatkan membaca doa:


رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَارْفَعْنِيْ وَارْزُقْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَعَافِنِيْ وَاعْفُ عَنِّيْ


Artinya: Ya Tuhanku, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupkan saya dari segala kekurangan, angkatlah derajatku, berilah saya rizki, berilah saya petunjuk, berilah saya keselamatan, dan berilah saya ampunan.


9. Duduk tasyahhud akhîr dengan disertai thuma’nînah

Posisi duduk yang disunnatkan dalam tasyahhud final ialah duduk tawarruk. Yaitu duduk dengan telapak kaki kanan ditegakkan dan jari-jarinya ditekuk, sedangkan telapak kaki kiri ada di bawah tulang kering, sehingga pantat sebelah kiri melekat ke daerah shalat. Posisi kedua tangan berada di atas paha, serta jari-jari ajudan dalam keadaan menggenggam selain jari telunjuk, sedangkan ujung ibu jari menyentuh pangkal jari telunjuk.


10. Membaca bacaan tasyahhud akhîr

Bacaan tasyahhud final ialah sebagai berikut:


اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهدُ اَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ.


Artinya: Segala kehormatan, keberkahan, shalawat dan kebaikan ialah milik Allah. Keselamatan, rahmat dan berkah Allah mudah-mudahan tetap tercurahkan kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Keselamatan semoga tetap terlimpahkan kepada kami dan seluruh hamba Allah yang shalih-shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad ialah utusan Allah.


11. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw sehabis membaca tasyahhud

Dan disunnatkan membaca shalawat yang paling tepat yaitu shalawat Ibrahimiyah:


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كََمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ فِى الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.


Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau memberi rahmat kepada junjungan kami Nabi Ibrahim dan keluarganya. Limpahkanlah barakah kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberi barakah kepada junjungan kami Nabi Ibrahim dan keluarganya. Di seluruh alam semesta, Engkaulah Yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”


Setelah membaca tasyahhud dan shalawat disunnatkan membaca doa berikut:


اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِى مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا اَنْتَ أَعْلَمًُ بِهِ مِنِّى. اَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَاَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَإِلَهَ إَلاَّ اَنْتَ. اَللَّهُمَّ إِنِّى اَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ اَللَّهُمَّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَثِيْرًا كَبِيْرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ فَاغْفِرْلِى مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِى اِنَّكَ اَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosa yang telah saya kerjakan dan yang akan saya kerjakan, dosa yang tersembunyi, yang terang-terangan, yang berlebihan dan dosa yang Engkau lebih mengetahui daripada aku. Engkaulah Tuhan Yang Mendahulukan dan Yang Mengakhirkan. Tiada Tuhan selain Engkau. Ya Allah, sebetulnya saya berlindung kepada-Mu dari segala siksa kubur dan neraka dan dari fitnahnya hidup dan mati serta fitnah Dajjal. Ya Allah, sebetulnya saya telah menganiaya diriku sendiri dengan penganiayaan yang banyak dan besar. Tidak ada yang sanggup mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka, ampunilah saya dengan pengampunan dari sisi-Mu dan kasihanilah aku, sebetulnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku.”


Berikut ini ialah bacaan lengkap tasyahhud akhir:


اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهِدُ اَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كََمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ فِى الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِى مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا اَنْتَ أَعْلَمًُ بِهِ مِنِّى. اَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَاَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَإِلَهَ إَلاَّ اَنْتَ. اَللَّهُمَّ إِنِّى اَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ اَللَّهُمَّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَثِيْرًا كَبِيْرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ فَاغْفِرْلِى مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِى اِنَّكَ اَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِيْنِكَ


12. Membaca salam yang pertama

Paling sedikitnya salam adalah



َالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ


satu kali. Sedangkan paling sempurnanya salam adalah



َالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ


dua kali.


13. Tartîb atau mengerjakan rukun-rukun shalat sesuai dengan urutannya


Pengertian syarat sah dan rukun shalat lengkap ada 17 dan sunnah shalat dengan bacaan dzikir nya itu bisa menjadi tuntunan terbaik sholat sehari-hari sesuai dengan kaidah fiqihnya. Semoga bermanfaat.


Belum ada Komentar untuk "Pengertian Syarat Sah Dan Rukun Shalat Lengkap Dengan Bacaannya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel