Syarat Pengertian Doa Tata Cara Mengkafani Dan Menguburkan Jenazah
Hal yang sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk bersegera memperlihatkan pemberian bagi muslim lainnya, menyerupai saat harus mengurus orang mayat seorang muslin, meskipun secara aturan itu termasuk pada fardhu kifayah, akan tetapi secara pelaksanaan itu diharuskan kepada setiap muslim mengetahui wacana bagaimana caranya mengurusi mayat mulai dari memandikan, membungkus, mengkafani, menyolatkan serta juga menguburkannya.
Amalan ini di nilai penting dan perlu sekali bagi setiap individu muslim, mengingat dalam meyempurnakan sebuah amalan khususnya yang berafiliasi dengan hak insan itu sangatlah luas dan besar, salah satunya saat ada seseorang muslim yang meninggal, maka kewajiban bagi umat muslim lainnya yaitu bersegeralah untuk mengurusi semua hal yang sangat diharapkan dalam proses mengurus mayit ataupun mayat tersebut menyerupai tata cara menguburkan jenazah ini.
Dan pelaksanaan dari amalan itu juga merupakan bab dari empat hal yang menjadi hakk seorang mayyit yakni memandikan, mengkafani, menshalatkan, dan menguburkan. “ Dan hak ini mesti didapatkan seorang muslim yang meninggal, siapa pun itu. Yang penting orang tersebut, selama hidupnya pernah mengucap syahadat. Adapun perkara, dia shalat atau tidak itu urusan dia dengan Allah,” kita hanya berkewajiban untuk mengurusi secepatnya.
Kewajiban tersebut jikalau dilihat dan di tinjau dari segi keumuman seorang muslim, akan tetapi jikalau dilihat dari segi khususnya itu tergantung pada status dan tingakatkan serta derajat seorang muslim tersebut, ataupun kedudukan saat dia menemuai ajalnya, menyerupai orang yang meninggal alasannya yaitu berjihad atau mati syahid itu terdapat perlakuan dan pengamalan khusus yang harus dilaksanakan sesuai dengan sunnahnya.
Bahkan terdapat juga kewajiban bagi seorang muslim jikalau tetangga yang meninggalnya itu seorang kafir dzimmi atau orang kafir yang tidak memusuhi islam, namun tidak semua kewajiban yang emapt masalah yaitu memandikan, mengkafani, menshalatkan, dan menguburkan hanya dua kewajiban saja yaitu mengkafani dan memandikan adapun aturan memandikannya jenazagh kafir dzimmi tersebut yaitu boleh (jawaz), namun haram untuk disholati.
Dapat disimpulkan dari klarifikasi mengenai bagaimana tata cara mengurusi mayyit tersebut itu tergantung pada siapa mayyit itu apakah orang yang meninggal alasannya yaitu mati syahid yang hanya cukup mengkafani dan memakamkannya, atau orang yang tidak mati syahid yang kewajibannya adalh yang empat masalah tadi, sedangkan bagi mayit As-Siqtu (Bayi Prematur) dan tidak diketahui gejala kehidupan maka itu kewajiban bagi muslim lainnya yaitu memandikan, mengkafani dan menguburkan. Adapun aturan mensholatinya tidak diperbolehkan.
Tata Cara Mengakafani atau Membungkus Jenazah
1. Jika tinggi tubuhnya 180 cm, maka panjang kain kafannya ditambah 60 cm.
2. Jika tinggi tubuhnya 150 cm, maka panjang kain kafannya ditambah 50 cm.
3. Jika tinggi tubuhnya 120 cm, maka panjang kain kafannya ditambah 40 cm.
4. Jika tinggi tubuhnya 90 cm, maka panjang kain kafannya ditambah 30 cm.
5. Tambahan panjang kain kafan dimaksudkan supaya gampang mengikat bab atas kepalanya dan bab bawahnya.
Tata Cara Mengkafani Jenazah laki-laki
Jenazah pria dibalut dengan tiga lapis kain kafan. Berdasar dengan hadits.
“Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dikafani dengan 3 helai kain sahuliyah yang putih higienis dari kapas, tanpa ada baju dan serban padanya, dia dibalut dengan 3 kain tersebut.
Cara mempersiapkan tali pengikat kain kafan
1. Panjang tali pengikat diadaptasi dengan lebar badan dan ukuran kain kafan. Misalnya lebarnya 60 cm maka panjangnya 180 cm.
2. Persiapkan sebanyak 7 tali pengikat. ( jumlah tali usahakan ganjil). Kemudian dipintal dan diletakkan dengan jarak yang sama diatas usungan jenazah.
b. Cara mempersiapkan kain kafan.
3 helai kain diletakkan sama rata diatas tali pengikat yang sudah lebih dahulu , diletakkan diatas usungan jenazah, dengan menyisakan lebih panjang di bab kepala.
Cara mempersiapkan kain epilog aurat
1. Sediakan kain dengan panjang 100 cm dan lebar 25 cm ( untuk mayyit yang berukuran lebar 60 cm dan tinggi 180 cm), potonglah dari atas dan dari bawah sehingga bentuknya menyerupai popok bayi.
2. Kemudian letakkan diatas ketiga helai kain kafan sempurna dibawah daerah duduk mayyit, letakkan pula potongan kapas diatasnya.
3. Lalu bubuhilah wewangian dan kapur barus diatas kain epilog aurat dan kain kafan yang eksklusif menempel pada badan mayyit.
Cara Memakaikan Kain Penutup Auratnya
1. Pindahkan mayat kemudian bubuhi badan mayyit dengan wewangian atau sejenisnya. Bubuhi anggota-anggota sujud.
2. Sediakan kapas yang diberi wewangian dan letakkan di lipatan-lipatan badan menyerupai ketiak dan yang lainnya.
3. Letakkan kedua tangan sejajar dengan sisi tubuh, kemudian ikatlah kain epilog sebagaimana memopok bayi dimulai dari sebelah kanan dan ikatlah dengan baik.
Cara Membalut Kain Kafan
1. Mulailah dengan melipat lembaran pertama kain kafan sebelah kanan, balutlah dari kepala hingga kaki .
2. Demikian lakukan denngan lembaran kain kafan yang kedua dan yang ketiga.
f. Cara mengikat tali-tali pengikat
1. Mulailah dengan mengikat tali bab atas kepala mayyit dan sisa kain bab atas yang lebih itu dilipat kewajahnya kemudian diikat dengan sisa tali itu sendiri.
2. Kemudian ikatlah tali bab bawah kaki dan sisa kain kafan bab bawah yang lebih itu dilipat kekakinya kemudian diikat dengan sisa tali itu sendiri.
3. Setelah itu ikatlah kelima tali yang lain dengan jarak yang sama rata. Perlu diperhatikan, mengikat tali tersebut jangan terlalu kencang dan usahakan ikatannya terletak disisi sebelah kiri tubuh, supaya gampang dibuka saat mayat dibaringkan kesisi sebelah kanan dalam kubur.
Mengkafani Jenazah Wanita
Jenazah perempuan dibalut dengan lima helai kain kafan. Terdiri atas : Dua helai kain, sebuah baju kurung dan selembar sarung beserta kerudungnya. Jika ukuran lebar tubuhnya 50 cm dan tingginya 150 cm, maka lebar kain kafannya 150 cm dan panjangnya 150 ditambah 50 cm.
Adapun panjang tali pengikatnya yaitu 150 cm, disediakan sebanyak tujuh utas tali, kemudian dipintal dan diletakkan sama rata di atas usungan jenazah. Kemudian dua kain kafan tersebut diletakkan sama rata diatas tali tersebut dengan menyisakan lebih panjang dibagian kepala.
Cara mempersiapkan baju kurungnya
1. Ukurlah mulai dari bahu hingga kebetisnya, kemudian ukuran tersebut dikalikan dua, kemudian persiapkanlah kain baju kurungnya sesuai dengan ukuran tersebut.
2. Lalu buatlah potongan kerah sempurna ditengah-tengah kain itu supaya gampang dimasuki kepalanya.
3. Setelah dilipat dua, biarkanlah lembaran baju kurung bab bawah terbentang, dan lipatlah lebih dulu lembaran atasnya (sebelum dikenakan pada mayyit, dan letakkan baju kurung ini di atas kedua helai kain kafannya ).lebar baju kurung tersebut 90 cm.
Cara mempersiapkan kain sarung
Ukuran kain sarung yaitu : lebar 90 cm dan panjang 150 cm. Kemudian kain sarung tersebut dibentangkan diatas bab atas baju kurungnya.
c. Cara mempersiapkan kerudung
Ukuran kerudungnya yaitu 90 cm x90 cm. Kemudian kerudung tersebut dibentangkan diatas bab atas baju kurung.
d. Cara mempersiapkan kain epilog aurat.
1. Sediakan kain dengan panjang 90 cm dan lebar 25 cm.
2. Potonglah dari atas dan dari bawah menyerupai popok.
3. Kemudian letakkanlah diatas kain sarungnya sempurna dibawah daerah duduknya, letakkan juga potongan kapas diatasnya.
4. Lalu bubuhilah wewangian dan kapur barus diatas kain epilog aurat dan kain sarung serta baju kurungnya.
Cara melipat kain kafan
Sama menyerupai membungkus mayat laki-laki
Cara mengikat tali
Sama sepert membungkus mayat laki-laki.
Tata cara menguburkan mayat adalag sebagai berikut:
1. Masukkanlah mayat dari arah kakinya, jikalau tidak ada kesulitan.
2. Bagi mayat perempuan, saat menguburkannya disunahkan ditirai dengan kain.
3. Bagi mayat perempuan yang memasukkannya ke dalam kuburan hendaklah muhrimnya.
4. Letakkan mayat dilahat dalam posisi miring ke kanan dan muka menghadap ke kiblat.
5. Rapatkan ke dinding kuburan supaya tidak bergeser dan berikan bantalah di bab belakang dengan gumpalan tanah supaya tidak terbalik ke belakang.
6. Letakan mayat di dalam kuburan dengan membaca do’a. بسم الله وعلى ملة رسول الله (Artinya: Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah)
7. Lepaskan ikatan kain kafan di bab kepala dan kaki mayat.
8. Setelah tamat meletakkan mayat di dalam kuburan, terlebih dahulu mayat ditutup dengan kabin (kepingan-kepingan tanah, papan) barulah di timbun dengan tanah.
9. Disunahkan sebelum menimbun kuburan meletakkan tiga genggam tanah pada bab kepala, punggang dan kaki.
Berikut hal-hal yang dihentikan dan dianjurkan melakukannya sesudah kuburan di timbun.
1. Tinggikan kuburan (20 cm) dari tanah sebagai tanda bahwa itu yaitu kuburan.
2. Boleh memberi tanda kuburan dengan kerikil atau sejenisnya.
3. Membundarkanya lebih baik daripada meratakanya.
4. Haram menciptakan bagunan diatas kuburan.
5. Makruh duduk, berdiri dan dituran diatas kuburan serta haram buang air diatas kuburan.
6. Tidak boleh membangun masjid di atas kuburan dan menciptakan jendela khusus kearah kuburan.
Syarat pengertian doa tata cara mengkafani dan menguburkan niat sholat jenazah berikut dengan hadits serta makalah nya itu merupakan sebuah amalan yang sudah menjadi kewajiban bagi kita semua.

Belum ada Komentar untuk "Syarat Pengertian Doa Tata Cara Mengkafani Dan Menguburkan Jenazah"
Posting Komentar