Bacaan Niat Doa Tata Cara Sholat 5 Waktu Dan Artinya Lengkap
Penting kiranya untuk mengetahui hal-hal yang berhubunagn dengan pelaksanaan ibadah mahdoh (langsung) menyerupai sholat ini, dimana tidak hanya cukup untuk bisa melaksanakan syarat, rukun dan jauh dari pembatalannya, seseorang yang akan melaksanakan iabdah sholat pun harus turut pula mengetahui dan memahami arti dari pada bacaan sholat itu sendiri, terlebih dengan bacaan yang memang termasuk pada rukun shalat itu sendiri, contohnya bacaan al fatiha, takbirotul ikhram, Shalawat, Tasyahud dan juga Salam atau ayng lebih dikenal dalam ilmu fiqh sebagai rukun qouli shalat.
Sholat yang merupakan amalan ibadah utama bagi setiap individu umat muslim terutama dengan sholat lima waktu, lantaran selain sudah menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan disetiap waktunya, sholat lima waktu ini juga merupakan tiangnya agama. Kaprikornus jikalau ingin agamanya berpengaruh serta keimanannya stabil, maka dirikanlah sholat lima waktu yang bisa mencegah daripada perbuatan keji dan mungkar.
Bahkan secara pemaknaan sholat lima waktu itu ialah dzikir dan cara berdoa yang terbaik bagi setiap hamba, lantaran didalam bacaan sholat itu terkumpul banyak sekali makna penting yang terdapat pada setiap gerakan dan bacaannya, yang pastinya bisa jauh lebih dimengerti dan di fahami arti daripada setiap bacaan tersebut. Makanya tidak heran para ulama menjelaskan akan rukun, syarat sah begitu juga peniadaan sholat.
Mengapa ketiga hal ini menjadi penggalan penting didalamnya? Karena memang jikalau seseorang yang sholat melanggar ketentuan yang ada pada rukun, syarat dan peniadaan sholat, maka sholat itu hukumnya tidak syah, baik untuk sholat yang dikerjakan sendiri maupun yang dilaksanakan secara berjama’ah. Dan ketahuilah sebenarnya dengan sholat itu semua ketenangan hidup akan senantiasa bersemayam dalam jiwa.
Apalagi jikalau setiap akan melaksanakan sholat lima waktu ini selalu di barengi dengan ketulusan dan keikhlasan untuk lebih memaksimalkan diri dikala menjalankannya, menyerupai berwuduhu sesuai dengan fardhu dan sunnahnya, mengenakan pakaian yang suci higienis dan sopa, serta mempersiapkan jiwa hari dan raga ini untuk berhadapan lansgung kepada sang kholiq, lantaran memang sholat merupakan ibadah yang makhdoh atau pribadi kepada Alloh S.W.T.
Untuk itu sebagai wujud daripada pengamalan nilai anugerah akan kehambban tersebut, maka mengetahui jauh sekaligus memknai dan menghayati daripada tuntunan shola lima waktu yang benar sesuai dengan kaidahnya itu ialah sebuah buktti faktual akan pentingnya sholat dalam hidup di dunia dan akhirat. Salah satu dalil Quran tentnag diperintahnya mendirikan sholat lima waktu adalah:
فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا
Artinya: “Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu ialah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (QS. al-Nisâ’
Pengertian Sholat
Menurut istilah sholat itu ialah Serangkaian ibadah yang diawali dengan ucapan dan di akhiri dengan membacakan salam dengan ketentuan-ketentuan yang telah di syaratakan, adapun shalat berdasarkan bahasa ialah berdoa.
Syarat Wajib Sholat
1. Beragama Islam
2. Berakal Sehat (Tidak Gila)
3. Baligh (Telah Dewasa dan Cukup Usia)
4. Telah hingga dakwah islam kepadanya
5. Bersih dan suci dari najis, haid, nifas, dan lain sebagainya
6. Sadar atau tidak sedang tidur
Syarat Sah Sholat
1. Telah Masuk waktu sholat
2. Menghadap ke kiblat
3. Suci Badan dan Tempat Sholat dari najis baik hadas kecil maupun besar
4. Menutup aurat
5. Mengetahui Cara Pelaksanaannya
Rukun Shalat
1. Niat
2. Posisi berdiri bagi yang mampu
3. Takbiratul ihram
4. Membaca surat al-fatihah pada tiap-tiap rakaat
5. Ruku secara tumakninah
6. I’tidal yang tuma’ninah
7. Sujud yang tumaninah
8. Duduk di antara dua sujud yang tuma’ninah
9. Sujud kedua secara tuma’ninah
10. Duduk Tasyahud Akhir
11. Membaca salawat Nabi Muhammad SAW
12. Salam ke kanan kemudian ke kiri
13. Tertib (Dilakukan secara berurutan)
Dasar Hukum (Dalil) Kewajiban Sholat
1. Surat Albaqarah Ayat 43, 83,110
2. Surat An-Nisaa’ Ayat 77, 133
3. Surat Huud Ayat : 114
4. Surat Al-Israa Ayat 217;78
5. Surat Maryam Ayat 31,55
6. Surat Thaahaa Ayat 132
7. Surat An-Nuur Ayat 56
8. Surat Al-Ankabut Ayat 45
9. Surat Ar-Ruum Ayatt31
10. Surat Luqman Ayat Ayat 17
11. Surat Al-Mujadalah Ayat 13
12. Surat Al-Muzammil Ayat 20
Berikut bacaan lengkap niat sholat lima waktu lengkap dengan tuntunan serta bacaannya.
1. Niat Sholat
أُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى
Membaca lafal ini aturan sunnat sebelum takbir. Sedangkan niat yang difardhukan ialah niat di dalam hati bersamaan dengan takbir.
Lafadz Niat Shalat Dzuhur:
اُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى
Artinya: Saya melaksanakan shalat fardhu zhuhur sebanyak empat rakaat dengan menghadap kiblat, pada waktunya (menjadi makmum/imam) lantaran Allah Ta’ala.
Lafadz Niat Shalat Ashar:
أُصَلِّى فَرْضَ العَصْرِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى
Artinya: Saya melaksanakan shalat fardhu ashar sebanyak empat rakaat dengan menghadap kiblat, pada waktunya (menjadi makmum/imam) lantaran Allah Ta’ala.
Lafadz Niat Shalat Maghrib:
أُصَلِّى فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى
Artinya: Saya melaksanakan shalat fardhu maghrib sebanyak tiga rakaat dengan menghadap kiblat, pada waktunya (menjadi makmum/imam) lantaran Allah Ta’ala.
Lafadz Niat Shalat Isya’:
أُصَلِّى فَرْضَ العِشَاء ِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى
Artinya: Saya melaksanakan shalat fardhu isya’ sebanyak empat rakaat dengan menghadap kiblat, pada waktunya (menjadi makmum/imam) lantaran Allah Ta’ala.
Lafadz Niat Shalat Shubuh:
أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْح رَكَعتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى
Artinya: Saya melaksanakan shalat fardhu subuh sebanyak dua rakaat dengan menghadap kiblat, pada waktunya (menjadi makmum/imam) lantaran Allah Ta’ala.
Melengkapi niat shalat dengan pernyataan “menghadap kiblat, ada’ atau qadha’, semata lantaran Allah dan memilih jumlah rakaat” hukumnya sunnat.
2. Takbîratul ihrâm
Bacaan takbîratul ihrâm adalah:
أللهُ أَكْبَرْ
Dalam mengucapkan takbir, orang yang shalat wajib membacanya dengan tepat dan benar.
Saat takbir sunnat mengangkat kedua tangan. Bagi pria dengan cara:
Posisi tangan berada di atas pundak
Ibu jari lurus dengan daun indera pendengaran penggalan bawah
Jari-jari agak direnggangkan
Ujung jari-jari diluruskan dengan daun indera pendengaran penggalan atas dan condong ke arah kiblat
Bagi orang wanita praktek mengangkat tangannya sama dengan praktekya laki-laki, dan ada ulama yang menyatakan (qîl) tangannya diangkat tidak terlalu tinggi kira-kira ujung jari-jari lurus dengan bahu.
3. Berdiri bagi orang yang mampu
Orang yang tidak bisa berdiri, maka harus melaksanakan shalat dengan duduk. Orang yang tidak bisa shalat dengan cara duduk, maka, harus melaksanakan shalat dengan cara tidur miring. Bila dengan cara tidur miring masih tidak memungkinkan, maka harus melaksanakan shalat dengan cara tidur terlentang. Jika masih tidak bisa melakukannya dengan tidur terlentang, maka harus melaksanakan shalat instruksi dengan kelopak mata. Jika masih tidak memungkinkan melakukannya dengan cara tersebut, maka harus menjalankan rukun shalat dalam hati. Keterangan lebih lengkap dijelaskan dalam penggalan Shalat Ma’dzûr.
4. Membaca surat Fâtihah di setiap rakaat
Jika tidak bisa membaca surat Fâtihah, lantaran gres masuk Islam misalnya, maka alternatifnya harus membaca tujuh ayat lain yang jumlah hurufnya tidak kurang dari jumlah huruf-huruf yang terdapat dalam surat Fâtihah. Jika tidak bisa membaca tujuh ayat lain sama sekali, maka harus membaca tujuh macam dzikir atau doa dengan jumlah karakter yang sekiranya tidak kurang dari jumlah hurufnya surat Fâtihah. Jika tidak bisa membaca tujuh macam dzikir atau doa, maka harus berdiri (diam) dalam waktu yang kira-kira cukup untuk membaca Fâtihah. Bagi orang yang hanya bisa membaca sebagian dari surat Fâtihah, maka ia harus mengulang-ulanginya hingga jumlah hurufnya tidak kurang dari jumlah karakter yang terdapat dalam surat Fâtihah.
Pembacaan surat Fâtihah, harus sesuai dengan urutan ayat yang ada di dalam al-Qur’an. Selain itu, juga harus berkesinambungan (muwâlat). Artinya, harus membaca berkesinambungan antara satu kalimat dengan kalimat berikutnya, tidak dipisah dengan diam, atau membaca dzikir yang tidak ada hubungannya dengan shalat. Lain halnya jikalau dzikir pemisah itu masih berafiliasi dengan shalat, semisal membaca âmîn di pertengahan Fâtihah lantaran mengamini bacaan Fâtihah imam.
Diam bisa mensugesti pada kesinambungan (muwâlat) Fâtihah, apabila dilakukan dalam waktu yang cukup usang tanpa ada udzur. Atau membisu sebentar, tapi memang bertujuan untuk memutus bacaan. Jika diamnya lantaran lupa bacaan Fâtihah atau tidak tahu bahwa muwâlat itu wajib, maka hukumnya tidak apa-apa, baik waktu diamnya usang atau sebentar, lantaran hal itu dianggap udzur.
Pembacaan Fâtihah harus lengkap, harus menyuarakan tasydîdnya yang jumlahnya ada 14, juga mengucapkan karakter dengan benar (sesuai makhraj/tempat keluarnya huruf). Jangan hingga ada salah satu karakter yang dihilangkan dari surat Fâtihah, atau mengubah bacaan karakter sehingga mengakibatkan maknanya tidak benar.
5. Rukû‘ disertai thuma’nînah.
Rukû‘ dengan cara membungkukkan tubuh, hingga kira-kira kedua tangan bisa meraih lutut. Sebelum rukû‘ sunnat mengangkat tangan dan takbir terlebih dahulu.
Sedangkan cara rukû‘ yang lebih tepat bagi pria ialah dengan:
Membungkukkan badan hingga kira-kira tulang belakang punggung (verterbrate) dan leher serta kepala bisa lurus;
Menegakkaan kedua lutut
Telapak tangan meraih lutut
Jari-jari tangan direnggangkan sedikit biar jari-jari tidak berpaling dari arah kiblat
Pada dikala rukû‘ sunnat membaca tasbîh di bawah ini sebanyak tiga kali
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
Artinya: Maha suci Tuhanku yang Maha Agung dan dengan memuji-Nya.
6. I’tidâl disertai thuma’nînah.
Caranya dengan berdiri tegak sehabis berdiri dari rukû‘. I’tidâl merupakan rukun qashîrah (pendek) yang dilarang diperpanjang. Bahkan, jikalau memperlama i’tidâl bukan lantaran membaca dzikir yang disyariatkan (bisa lantaran membaca dzikir yang tidak disyariatkan atau lantaran diam) sehingga menyamai lamanya membaca Fâtihah, maka shalatnya batal.
Pada dikala i’tidâl tangan sunnat dilepas lurus ke bawah dan tidak menggerak-gerakkannya. Sedangkan ketika berdiri dari rukû‘ untuk melaksanakan i’tidâl sunnat membaca:
سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَه
Artinya: Allah Maha Mendengar terhadap orang yang memuji-Nya
Ketika posisi badan sudah tegak (i’tidâl) maka sunnat membaca:
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّموَاتِ وَمِلْءُ الاَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئتَ مِنْ شَيْئٍ بَعْدُ
Artinya: Ya Allah Tuhan kami, bagi-Mu segala puji sepenuh isi langit dan bumi dan sepenuh barang yang Engkau kehendaki sehabis itu.
7. Sujud dua kali disertai thuma’nînah.
Caranya, dengan meletakkan tujuh anggota badan di atas kawasan shalat, yaitu kening, kedua lutut, kedua telapak tangan dan telapak jemari kedua kaki.
Adapun yang disunnatkan dalam pelaksanaan sujud sebagai berikut:
Meletakkan kedua lutut ke kawasan shalat terlebih dahulu dan merenggangkannya kira-kira satu jengkal; kemudian
Meletakkan kedua telapak tangan lurus dengan pundak, sedangkan lengan diangkat (tidak ditempelkan ke kawasan shalat), dan merapatkan jemari tangan tanpa digenggam serta menghadapkannya ke arah kiblat; kemudian
Meletakkan dahi bersama dengan meletakkan hidung, sedang mata tidak terpejam
Merenggangkan telapak kaki kira-kira satu jengkal, menegakkan dan memperlihatkannya (tidak ditutupi) serta menghadapkan punggung jemari ke arah kiblat
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam melaksanakan sujud:
a. Pertama, menurunkan badan dengan maksud melaksanakan sujud. Jadi, jikalau contohnya ia terjatuh dari i’tidâl lantaran mengantuk tanpa ada maksud untuk melaksanakan sujud maka sujudnya tidak dianggap, dan harus kembali ke i’tidâl.
b. Kedua, ketujuh anggota sujud (dahi, dua telapak tangan, dua lutut, jari-jari kaki kiri dan kanan) membisu secara bersamaan dikala melaksanakan sujud. Jadi, jikalau pada dikala sujud salah satu telapak tangan ada yang terangkat, dan ketika telapak tangan itu diletakkan, ada anggota sujud lain yang diangkat, maka sujudnya tidak cukup.
c. Ketiga, meletakkan sebagian dahi dengan keadaan terbuka. Jika pada sebagian dahi yang dibentuk sujud itu terdapat penghalang maka sujudnya tidak sah, kecuali bila penghalangnya berupa perban yang menutupi seluruh permukaan dahi disebabkan terdapat luka sekiranya berdampak negatif jikalau dilepaskan, maka sujudnya tetap sah.
d. Keempat, dahi harus sedikit ditekankan ke kawasan sujud. Ukuran tekanannya, kira-kira kalau contohnya diletakkan kapas, maka kapas itu akan terpenyet.
e. Kelima, sujud dilakukan dalam posisi menungging. Artinya posisi badan penggalan bawah (pantat dan anggota badan sekitarnya) lebih tinggi dari pada kepala, pundak dan kedua tangan. Jadi, apabila terbalik (posisi kepala lebih tinggi atau sama dengan penggalan bawah tubuh), menyerupai sujud di tangga dan kepala berada di anak tangga yang atas, maka sujudnya tidak sah, kecuali bila ada suatu hal yang mengharuskan demikian.
f. Keenam, bersujud pada selain barang yang digunakan atau dibawa oleh orang yang shalat yang bergerak dengan gerakannya. Jadi, kalau contohnya ia bersujud di ujung sorban yang dipakainya, maka sujudnya tidak sah. Kecuali jikalau bersujud di ujung sorban yang panjang dan tidak bergerak pada dikala mushalli melaksanakan gerakan shalat, maka sujudnya tetap sah.
Ketika sujud, sunnat membaca tasbîh berikut ini sebanyak tiga kali:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ
Artinya: Maha Suci Tuhanku Yang Maha Luhur dan dengan memuji-Nya.
8. Duduk di antara dua sujud dengan disertai thuma’nînah.
Menurut qaul mu’tamad (pendapat yang sanggup dijadikan dasar), duduk di antara dua sujud termasuk rukun pendek yang dilarang diperpanjang hingga melebihi lamanya bacaan minimal dari tasyahhud.
Kedua telapak tangan ketika duduk diletakkan di atas kedua paha sekiranya ujung jari-jari tangan lurus dengan lutut dan semua jemarinya dirapatkan serta diluruskan ke arah kiblat.
Saat duduk disunnatkan membaca doa:
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَارْفَعْنِيْ وَارْزُقْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَعَافِنِيْ وَاعْفُ عَنِّيْ
Artinya: Ya Tuhanku, ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupkan saya dari segala kekurangan, angkatlah derajatku, berilah saya rizki, berilah saya petunjuk, berilah saya keselamatan, dan berilah saya ampunan.
9. Duduk tasyahhud akhîr dengan disertai thuma’nînah.
Posisi duduk yang disunnatkan dalam tasyahhud simpulan ialah duduk tawarruk. Yaitu duduk dengan telapak kaki kanan ditegakkan dan jari-jarinya ditekuk, sedangkan telapak kaki kiri ada di bawah tulang kering, sehingga pantat sebelah kiri melekat ke kawasan shalat. Posisi kedua tangan berada di atas paha, serta jari-jari ajun dalam keadaan menggenggam selain jari telunjuk, sedangkan ujung ibu jari menyentuh pangkal jari telunjuk.
10. Membaca bacaan tasyahhud akhîr.
Bacaan tasyahhud simpulan ialah sebagai berikut:
اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهدُ اَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ.
Artinya: Segala kehormatan, keberkahan, shalawat dan kebaikan ialah milik Allah. Keselamatan, rahmat dan berkah Allah mudah-mudahan tetap tercurahkan kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Keselamatan semoga tetap terlimpahkan kepada kami dan seluruh hamba Allah yang shalih-shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad ialah utusan Allah.
11. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw sehabis membaca tasyahhud.
Dan disunnatkan membaca shalawat yang paling tepat yaitu shalawat Ibrahimiyah:
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كََمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ فِى الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau memberi rahmat kepada junjungan kami Nabi Ibrahim dan keluarganya. Limpahkanlah barakah kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberi barakah kepada junjungan kami Nabi Ibrahim dan keluarganya. Di seluruh alam semesta, Engkaulah Yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia
Setelah membaca tasyahhud dan shalawat disunnatkan membaca doa berikut:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِى مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا اَنْتَ أَعْلَمًُ بِهِ مِنِّى. اَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَاَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَإِلَهَ إَلاَّ اَنْتَ. اَللَّهُمَّ إِنِّى اَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ اَللَّهُمَّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَثِيْرًا كَبِيْرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ فَاغْفِرْلِى مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِى اِنَّكَ اَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Artinya: Ya Allah, ampunilah dosa yang telah saya kerjakan dan yang akan saya kerjakan, dosa yang tersembunyi, yang terang-terangan, yang berlebihan dan dosa yang Engkau lebih mengetahui daripada aku. Engkaulah Tuhan Yang Mendahulukan dan Yang Mengakhirkan. Tiada Tuhan selain Engkau. Ya Allah, sebenarnya saya berlindung kepada-Mu dari segala siksa kubur dan neraka dan dari fitnahnya hidup dan mati serta fitnah Dajjal. Ya Allah, sebenarnya saya telah menganiaya diriku sendiri dengan penganiayaan yang banyak dan besar. Tidak ada yang sanggup mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka, ampunilah saya dengan pengampunan dari sisi-Mu dan kasihanilah aku, sebenarnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku
Berikut ini ialah bacaan lengkap tasyahhud akhir:
اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهِدُ اَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كََمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ فِى الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِى مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا اَنْتَ أَعْلَمًُ بِهِ مِنِّى. اَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَاَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَإِلَهَ إَلاَّ اَنْتَ. اَللَّهُمَّ إِنِّى اَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ اَللَّهُمَّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَثِيْرًا كَبِيْرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ فَاغْفِرْلِى مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِى اِنَّكَ اَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِيْنِكَ
12. Membaca salam yang pertama
Paling sedikitnya salam satu kali adalah
َالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ
Sedangkan paling sempurnanya salam dua kali adalah
َالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
13. Tartîb atau mengerjakan rukun-rukun shalat sesuai dengan urutannya.
Keterangan Berdoa dan Berdzikir Setelah Sholat Lima Waktu
َ
« مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ فَتِلْكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ ».
Artinya: “Barangsiapa yang membaca tasbih sehabis sholat lima waktu 33 kali, hamdalah 33 kali, Takbir 33 kali dan sempurnanya hingga 99 kali yang dilanjutkan dengan membacakan Tahlil, maka akan di ampuni semua kesalahannya meskipun sebanyak buih di lautan.”
Tuntunan bacaan niat doa tata cara sholat 5 waktu dan artinya lengkap ialah sebuah klarifikasi yang diambil dari kitab fiqih shahih sebagaimana yang telah dijelaskan secara detail dalam pembahasannya.

Belum ada Komentar untuk "Bacaan Niat Doa Tata Cara Sholat 5 Waktu Dan Artinya Lengkap"
Posting Komentar